Pencarian Berita


Isu Pemenuhan Kebutuhan Darah Menjadi Pembicaraan Internasional

Isu Pemenuhan Kebutuhan Darah Menjadi Pembicaraan Internasional

YOGYAKARTA  -- Oleh karena peralatan dan sumber daya manusia (SDM) mencukupi, RSUP Dr Sardjito Yogyakarta ditunjuk sebagai leader untuk transfusi darah.

Selain itu juga menjadi tempat rujukan utama dan sekaligus Rumah Sakit Pendidikan (RSP) yang terpercaya serta sebagai rumah sakit model nasional.

Hal itu dikatakan Dr dr Darwito, Sp.B(K).Onk, Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, di sela-sela workshop "Blood Screening and Processing Centralization Through Development of Center of Excellence" di Hotel Tentrem Yogyakarta, Rabu (5/2/2020).

Isu pemenuhan kebutuhan darah menjadi pembicaraan internasional. Terkait hal tersebut digelar workshop APEC Life Sciences Innovation Forum: Blood Screening and Processing Contralization Through Development of Center of Excellence yang dilaksanakan pada 4-5 Februari 2020 di Ball Room Hotel Tentrem Yogyakarta.

Menurut Darwito, RSUP Dr Sardjito Yogyakarta sekarang memiliki peran sebagai tempat rujukan atau serologi sebagai Dr Sardjito Hospital Blood Center. Selain itu juga menjalankan teknologi Nucleic Acid Tasting (NAT) dan bertindak sebagai pusat hemovigilanse.

"Sehingga membuka peluang untuk meningkatkan standar transfusi darah," ungkap Darwito, yang menerangkan konsolidasi laboratorium darah dan layanan dengan membangun pusat unggulan bisa menjadi solusi untuk meningkatkan standar transfusi darah.

Dikatakan dr Darwito, jumlah bank darah di DIY saat ini ada enam unit untuk mencukupi populasi sebesar 3,7 orang. "Rata-rata di enam unit bank darah itu setiap bulannya dapat terkumpul 12.500 kantong darah untuk memenuhi kebutuhan di 74 rumah sakit," kata Darwito.

Bagi Darwito, layanan darah di Indonesia -- termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta -- memiliki berbagai kendala. "Di antaranya standardisasi yang seragam, tidak ada jaringan atau konsilidasi, terbatasnya sumber daya manusia dan peralatan dan pengelolaan limbah yang tidak optimal. "Dan hal itu sangat membutuhkan perhatian semua pihak," tandas Darwito, yang menambahkan saat ini masih ada kesenjangan layanan darah untuk antardaerah.

Berkaitan hal itu, ke depan akan ada pelatihan dan layanan untuk transfusi, akreditasi pusat darah, dan pusat hemovigilance nasional.

Tidak kalah penting adalah kolaborasi antarlembaga, analisis data besar, upaya penelitian dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan standar transfusi darah.

Di setiap negara yang menetapkan pengakuan darah atau plasma sebagai SDM yang dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kesehatan dan kemajuan medis terdapat kebijakan darah yang berbeda-beda.

Sekarang ini ada jaringan keamanan darah dari Forum Inovasi Ilmu Pengetahuan Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik yang anggotanya adalah: Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chili, Tiongkok, Indonesia, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Korea, China, Taiwan, Thailand, AS dan Vietnam.

Variasi terbesar dalam skrining infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD) adalah skrining tambahan donor menggunakan pengujian asam nukleat (NAT), yang saat ini adalah skrining donor standar secara internasional untuk meningkatkan keamanan darah dan menutup periode deteksi dibandingkan dengan skrining serologis. (Anne Rochmawati)