Pencarian Berita


Jatanras Poldasu Bekuk 5 dari 8 Pelaku Pembunuhan Maratua dan Maraden, 2 Diantaranya Ditembak

Jatanras Poldasu Bekuk 5 dari 8 Pelaku Pembunuhan Maratua dan Maraden, 2 Diantaranya Ditembak

MEDAN -- Direktorat Reserse Kriminal Umum (DitReskrimum) Polda Sumut akhirnya meringkus 5 dari 8 orang tersangka pelaku kasus pembunuhan, Martua P Siregar alias Sanjay (48) dan Maraden Sianipar (55) di Labuhanbatu. 2 (dua) diantaranya terpaksa ditembak di bagian kedua betisnya karena mencoba melakukan perlawanan saat proses penangkapan.


Adapun kelima pelaku yang diringkus yakni, JKH alias Katimin alias Jamti Hutahean (42), warga Pasar Nagor Dusun 5 Perdagangan, Simalungun, yang merupakan Humas Kebun Kelapa Sawit KSU Amelia. Kemudian, VS alias Pak Revi (55) dan SH alias Pak Tati (55). Keduanya bertugas sebagai security Kebun Kelapa Sawit KSU Amelia.


Selanjutnya, DS alias Niel (40), warga Desa Pardomuan Kasindir, Kelurahan Nagori Kasindir, Kecamatan Jorlang Hataran, Simalungun. Niel juga security Kebun Kelapa Sawit KSU Amelia, dan terakhir, HP alias Harry (40), warga Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Harry merupakan menantu dari salah satu penggarap lahan perkebunan PT Amalia.


Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto SH MH, dalam keterangan pers di Mapolda Sumut, Jumat (8/11/2019) kepada wartawan menjelaskan, permasalahan yang terjadi adalah sengketa lahan di Perkebunan Sawit KSU Amelia yang dikelola oleh tersangka Harry.


Berdasarkan bukti-bukti dan pemeriksaan terhadap pelaku yang sudah ditangkap, diduga keras tersangka Harry menginstruksikan tersangka lain untuk mengusir dan menghabisi kedua korban.


"Lahan ini sebenarnya kawasan hutan yang dikelola oleh Harry melalui Perkebunan Sawit KSU Amelia. Namun dalam perjalanannya memang ada beberapa kelompok penggarap yang berusaha untuk menduduki lahan tersebut," ungkap Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Adrianto SH MH didampingi Waka Polda Sumut Brigjen Pol Mardiaz Kusin Dwihananto SIK MHum dan Direktur Reskrimum Kombes Pol Andi Rian, Kasubdit III Jatarans AKBP Maringan Simanjuntak serta Kasat Reskrim Polres Labuhan Batu AKP Jama Kita Purba.


Sambung dijelaskan Kapolda Sumut, sehingga inilah yang melatarbelakangi kedua korban dianiaya sampai meninggal dunia oleh enam orang pelaku dan satu yang mendapat instruksi dan satu pengelola diduga keras sebagai orang yang membiayai eksekusi yang dilakukan oleh para pelaku.


Jasad Sanjay dan Maraden ditemukan tewas di Komplek PT SAB/KSU Amalia, di Dusun VI, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhan Batu, Sumut pada, Rabu (30/10/2019). "Kelima pelaku yang ditangkap ini memiliki perannya masing-masing," ungkap Irjen Pol Agus.


Lanjut ditegaskan orang nomor satu di Mapolda Sumut ini, otak pelakunya adalah JH yang merencanakan pembunuhan di rumahnya bersama tiga pelaku yang masih diburon yakni, JS, Rikky, dan HS (DPO).


"Mereka menerima instruksi dari Harry, menantu salah satu pemilik PT Amalia, yang menyebutkan kedua korban sedang berada di perkebunan. "Dia (korban) ada di sana, usir segera dan kalau melawan habisi," jelasnya.


Kemudian beber Kapolda Sumut, JH merekrut dan mengarahkan DS bersama JS, Rikky dan HS untuk menjaga kebun dari para penggarap. Jika ada yang melawan dan tidak mau diusir maka dibunuh, terutama Maraden Sianipar.


"Untuk pelaku Victor Situmorang dan Sabar Hutapea, perannya memukul kedua korban dengan menggunakan kayu bulat panjang sekitar 1 meter, yang didapatkannya dari sekitar lokasi kejadian. Kemudian, menarik korban dan memasukkan ke dalam parit bekoan," papar Agus.


Sementara, pelaku DS  berperan menerima perintah dari otak pelaku untuk menghabisi nyawa kedua korban. Selain itu, merekrut Rikky, Hendrik Simorangkir, dan Josua Situmorang untuk ikut menghabisi nyawa kedua korban.


"Barang Bukti yang diamankan dari kelima tersangka, 1 unit Honda Revo warna hitam liris biru BK 5158 VAB, 1 unit sepeda motor Merk Honda Supra X dengan nomor polisi BK 2220 IO, 1 potong kaos dalam berlumuran darah, 1 potong kaos warna hitam, 1 sepeda warna coklat sebelah kiri dan 5 unit handphone yang digunakan tersangka," urai Agus.


Kelima pelaku dijerat Pasal 340 junto Pasal 338, Pasal 55, dan 56 KUHP, dengan ancaman hukuman mati, penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun penjara. "Kepada tersangka yang masih DPO kita harap supaya kooperatif dan menyerahkan diri," ungkap Kapolda Sumut.(anto)