Pencarian Berita


Pergelaran Musikalisasi Sastra: Menarik Antusiasme Penonton

Pergelaran Musikalisasi Sastra: Menarik Antusiasme Penonton

YOGYAKARTA -- Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bekerja sama dengan Studio Pertunjukan Sastra (SPS) adakan pergelaran musikalisasi sastra.

Pergelaran sastra satu-satunya di Indonesia, yang menampilkan beragam tafsir musikal atas karya sastra, kali ini mengusung tajuk jentera. 

"Kegiatan ini diadakan secara berkala satu tahun sekali," kata Latief S. Nugraha, narasumber pergelaran, Rabu (18/9/2019), yang menerangkan acara itu akan digelar pada Jum'at (20/9/2019) di Gedung Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta pukul 19.00-22.00 WIB. 

Pada kesempatan itu akan tampil empat grup dengan empat karya yang berbeda, yakni: Api Kata Bukit Menoreh, The Wayang Bocor, Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Kelompok Kampungan. Acara ini akan dipandu oleh Eko Bebek dan Vika Aditya.

Menilik kesuksesan pergelaran musikalisasi sastra tahun 2018 yang diselenggarakan di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta selama dua malam, menarik antusiasme penonton yang sebagian besar adalah generasi muda.

Pergelaran Musikalisasi Sastra tahun 2019 ini dengan konsep dan nuansa yang berbeda. "Para penampil adalah grup-grup yang telah menunjukkan prestasinya di kancah lokal, nasional, bahkan internasional," ujar Latief S. Nugraha, Carik Studio Pertunjukan Sastra (SPS). 

Melalui tajuk "Jentera", Yogyakarta dimaknai sebagai satu poros siklus roda-roda kreativitas seni yang terus berputar dan memintal karya-karya para seniman-sastrawan menjadi suatu kesatuan. 

"Kata demi kata beralih wahana dalam nada, irama, gerak, dan warna yang harmoni. Di atas megah panggung pentas, karya sastra terbukti telah berhasil mencuri cara menyuarakan nada bicaranya dengan lantang," ungkap Latief S. Nugraha. 

Kata-kata yang semula menentang dan menantang dalam sunyi, menurut Latief, menjadi berbunyi. "Paduan antara sastra dan musik melahirkan keluasan cakrawala interpretasi yang selalu baru," tandas Latief.

Nada dasarnya adalah pertemuan antara berbagai unsur yang harmoni dalam satu pintalan yang berputar seirama dalam jentera. 

Dalam acara itu, Api Kata Bukit Menoreh yang merupakan satu komunitas seni rupa dari Kulon Progo, menampilkan perfoming art memadukan puisi, lukis, dan musik. 

Selain melukis, komunitas itu juga menulis puisi dan memberikan tafsir terhadap puisi-puisi karya Subagio Sastrowardoyo, Darmanto Jatman, M. Thahar, Abdul Hadi WM, Ragil Suwarna Pragolapati, dan Endang Susanti Rustamaji ke atas kanvas menjadi sastra rupa. 

"Suatu bentuk penyaluran ekspresi dalam bentuk karya seni rupa sekaligus sastra," ungkap Latief S Nugraha.

Sementara itu, The Wayang Bocor akan menyajikan reportoar "Permata di Ujung Tanduk". Sebuah kisah tentang Sakuntala yang diangkat dari puisi-puisi karya Gunawan Maryanto. 

Proyek penciptaan karya pertunjukan wayang kontemporer hasil ide kreatif perupa Eko Nugroho ini sebagai perwujudan kolaborasi para seniman dari berbagai disiplin dalam menggali lebih dalam kemungkinan-kemungkinan estetika baru dan segar dalam pertunjukan wayang kontemporer sebagai media alih wahana karya sastra. 

Satu hal yang baru, kali ini akan disajikan Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY. Satu grup vokal yang mewadahi kegiatan mahasiswa di bidang tarik suara akan menyajikan tembang dan nyanyian merespons puisi-puisi karya Chairil Anwar, Asrul Sani, Wisnoe Wardhana, dan tembang karya Ki Hadi Sukatno dalam lantunan paduan suara. 

Sebagai gong, Kelompok Kampungan yang dikomandani Bram Makahekum akan menyajikan konser "Berkata Indonesia dari Yogyakarta". 

Satu pioner grup musik folk legendaris yang lahir di Yogyakarta sejak tahun 1970an dengan menyatukan untur musik modern dan etnik dalam setiap penampilannya akan mengajak menonton kembali bersemangat dan sekaligus bernostalgia. 

Syair-syair yang bersuara karya Bram Makahekum juga puisi-puisi karya W.S. Rendra akan membuat bendera merah-putih dengan semangat perjuangan dan persatuan bangsa berkibar-kibar di pengujung Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 ini.

Studio Pertunjukan Sastra telah merekam dan mencatat peristiwa demi peristiwa tatkala puisi dan karya sastra lainnya hadir di hadapan tatapan mata dan kamera. 

"Kita tentu menyadari, di dalam sejarahnya gelaran pertunjukan sastra telah ada sejak masa-masa yang silam. Sastra bukanlah bidang yang berdiri sendiri dalam kehidupan lapang, khususnya kebudayaan, dan terutama kesenian, melainkan dunia yang integral dengan jagat kesenian lainnya," kata Latief S Nugraha. 

Di sisi lain Drs Diah Tutuko Suryandaru selaku Kepala Taman Budaya Yogyakarta mengapresiasi perpaduan antara karya sastra dengan musik, juga dengan disiplin seni yang lain seperti sandiwara, seni rupa, seni tari, wayang hingga gambar digital yang telah disajikan dalam pergelaran musikalisasi sastra di Taman Budaya Yogyakarta. (Affan)