Pencarian Berita


Menuju Pemberian Gelar Pahlawan Nasional bagi Prof Dr Sardjito

Menuju Pemberian Gelar Pahlawan Nasional bagi Prof Dr Sardjito

SLEMAN  -- Diharapkan, jelang peringatan Hari Pahlawan 10 November 2019 mendatang pemberian gelar pahlawan bagi Prof Dr Sardjito benar-benar terlaksana.

Kini, tahapan akhir usulan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Prof Dr Sardjito, tinggal menanti tanda tangan Presiden RI.

Seperti dijelaskan Direktur Umum dan Operasional RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Rini Sunaring Putri, syarat-syarat pengajuan pemberian gelar pahlawan nasional sudah dilengkapi.

Di sela-sela haul Prof Sardjito di Ruang Seminar, Gedung Administrasi Pusat RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, Rini mengatakan kalau belum keluarnya surat keputusan pemberian gelar pahlawan nasional bagi Dr Sardjito memang masalah teknis sambil melengkapi berkas. "Mohon doanya agar surat keputusan lekas ditandatangani presiden," papar Rini, yang menambahkan UII dan UGM Yogyakarta juga sudah ikut mengusulkan serta Sri Sultan Hamengku Buwono X turut mendukung usulan itu.

Prof Dr dr Sardjito lahir pada 13 Agustus 1889 di Desa Purwodadi, Kawedanan, Magetan, wilayah Karesidenan Madiun. 

Sulung dari lima bersaudara ini memiliki ayah yang berprofesi sebagai guru. Dan, Sardjito mengawali jenjang pendidikanya pada usia 6 tahun (1895). 

Pada tahun 1901, Sardjito menyelesaikan pendidikan dasarnya di Lumajang. Tahun 1907 melanjutkan jejang pendidikannya ke pendidikan tinggi kedokteran di STOVIA (School toot Opleiding voor Indische Artsen) serta meraih gelar dokter dengan predikat sebagai lulusan terbaik di tahun 1915.

Setelah lulus dari STOVIA, Sardjito bekerja di rumah sakit di Jakarta sebagai dokter selama setahun, kemudian pindah ke Institut Pasteur Jakarta sebagai dokter hingga tahun 1920.

Beliau mengembangkan ilmu kedokterannya dengan sebuah penelitian: penyakit influenza.

Pada tahun 1922, Sardjito memperdalam ilmunya di Fakultas Kedokteran Universitas Amsterdam. Setahun kemudian, Sardjito belajar lebih intens lagi tentang penyaki-penyakit tropis. Lalu Sardjito pindah ke Universitas Leiden yang letaknya tidak jauh dari Amsterdam. 

Di Universitas Leiden, Sardjito memperoleh gelar doktor pada tahun 1923, kemudian pergi ke Amerika Serikat untuk mengikuti kursus hygiene di Baltimore, Maryland. Di sinilah Sardjito memperoleh gelar MPH dari John Hopkins University. 

Sepulang dari Amerika, Sardjito mendapat kepercayaan menjadi dokter Laboratorium Pusat Jakarta pada tahun 1924. Lalu dipercaya untuk menjadi ketua Boedi Oetomo cabang Jakarta. Atas permintaan langsung Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Universitas Gadjah Mada akhirnya didirikan di Yogyakarta. Salah satu fakultas  pertamanya adalah Fakultas Kedokteran yang dikukuhkan pada tahun 1950 dengan Doktor Sardjito sebagai dekan sekaligus menjabat rektor pertama.

Di tengah perkembangannya, Dr Sardjito memiliki ide untuk membangun rumah sakit pendidikan yang dikelola bersama Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Republik Indonesia. Karena keterbatasan lahan, cita-cita ini belum terwujud hingga beliau wafat pada tahun 1970. 

Diresmikannya RSUP Dr Sardjito merupakan perjalanan penuh prestasi, pengabdian dan perkembangan hingga saat ini. Hal itu memungkinkan terwuiudnya cita-cita Doktor Sardjito. Setelah 20 tahun dirintis, akhirnya pada tahun 1972 dimulailah pembangunan rumah sakit yang dicita-citakan Dr. Sardjito. 

Rumah sakit ini langsung mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme masyarakat pada saat pembukaan rumah sakit langsung yang merawat 300 pasien rawat inap. 

Setelah 4 tahun menjalani peralihan dan penyempurnaan, maka pada 8 Februari 1982 rumah sakit ini diresmikan oleh Presiden Soeharto. Namanya Rumah Sakit Umum Pusat Doktor Sardjito Yogyakarta. Hadir menjadi rumah sakit pendidikan sekaligus memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dengan mitra utama Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.  

Pada 2019, Rumah Sakit Umum Pusat Doktor Sardjito terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas mengikuti perkembangan teknologi kesehatan dunia.

"Kami bangga bertauladan pada profesor Sardjito, sang pejuang ilmuwan dan ilmuwan pejuang," ungkap Rini Sunaring Putri, Senin (19/8/2019).

Kata Rini, detak nadinya  adalah berjuang, profesional dalam pelayanan kesehatan, berkualitas dalam mendidik generasi ke depan, berinovasi dalam ilmu kesehatan, dan menjadi mitra terpercaya menuju sehat. (Anne Rochmawati)