Pencarian Berita


Din Syamsuddin: Setelah Ramadan Umat Islam Gagal Memaknai Ibadah

Din Syamsuddin: Setelah Ramadan Umat Islam Gagal Memaknai Ibadah

YOGYAKARTA -- Syawalan keluarga besar Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta sekaligus pelepasan 11 orang calon jamaah haji diadakan di Masjid Islamic Center Kampus Utama UAD Jl. Ahmad Yani, Ring Road Selatan, Banguntapan, Bantul, Rabu (12/6/2019). 

Tausiyah disampaikan Prof Dr HM Din Syamsuddin, MA, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 2005-2010 dan 2010-2015. Selain itu juga ada pamitan haji oleh Dr Tole Sutikno yang berharap bisa diberi kesehatan dan bisa melaksanakan ibadah haji dan meraih predikat haji mabrur. 

Dalam kata pengantarnya, Rektor UAD Dr H Kasiyarno, M.Hum mengucapkan selamat idul fitri 1 Syawal 1440 Hijriyah.

Kasiyarno menjelaskan, masuk kerja pertama pada Senin (10/6/2019) sebanyak 30 persen yang tidak masuk. "Masih banyak yang belum datang," papar Kasiyarno, yang menambahkan ada beberapa fakultas perlu ada perhatian pascalebaran.

Karenanya Kasiyarno berharap agar dosen dan karyawan di lingkungan UAD Yogyakarta yang memiliki 27 ribu mahasiswa serta 50 prodi dan 12 prodi pascasarjana untuk meningkatkan kedisiplinan dan kerja keras. "Saat ini dua prodi sedang dalam pengusulan untuk menyelenggarakan S3," terang Kasiyarno.

Din Syamsuddin dalam tausiyahnya mengatakan, setelah Ramadan umat Islam gagal memaknai ibadah. "Padahal yang penting adalah pascaibadah atau bakda ibadah," tandas Din, yang berharap untuk selalu bersujud terus-menerus kepada Allah SWT. 

Prof Dr Din Syamsuddin berharap pula agar umat muslim terus konsisten beribadah setelah bulan Ramadan. "Bulan Ramadhan merupakan proses awal dari pengabdian umat muslim terhadap Allah SWT untuk meraih ketakwaan," kata Din.

Bagi Din, ibadah puasa Ramadan bukan suatu tujuan, tetapi sarana untuk menuju dan mengabdi kepada Allah SWT untuk mencapai ketakwaan seseorang. "Pasca Ramadan marwahnya harus dijaga hingga mencapai bulan puasa berikutnya," kata Din yang menyinggung syarat terkabulnya doa seseorang, yaitu beristijabah dan beriman. 

Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau Din Syamsudin dalam ceramahnya juga menyinggung soal Pemilu 2019 dan menyebut perbedaan pilihan politik membuat bangsa dan umat Islam terbelah. 

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat itu juga mengakui, bangsa dan umat Islam mengalami keterbelahan.

"Perbedaan aspirasi dan afiliasi politik, terutama terkait pemilihan presiden dan wakil presiden telah menciptakan perpecahan tajam dan dalam di tubuh bangsa," kata Din, yang juga menyinggung soal kematian dan jatuh sakit ratusan petugas Pemilu dan menyebutnya sebagai tragedi kemanusiaan. 

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengaku prihatin. "Karena Pemilu seharusnya merupakan cara demokrasi untuk menghindari tirani dan anarki," tandas Din.

Menurut Din, banyak diri diliputi rasa benci dan nafsu angkara murka tak terkendali. "Maka nafsu saling menghabisi merasuk diri, digerakkan oleh klaim akan kebenaran nisbi, akhirnya kesucian Ramadan tercederai," ujarnya. (Affan)