Pencarian Berita


Pasar Tradisional di Yogyakarta Bebas Uang Lusuh

Pasar Tradisional di Yogyakarta Bebas Uang Lusuh

YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Perwakilan Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta berkomitmen untuk menjadikan pasar yang ada di Kota Yogyakarta menjadi kawasan bebas uang lusuh.

"Selain itu untuk meminimalisir peredaran uang lusuh di pasar tradisional," terang Drs Heroe Poerwadi, MA, Rabu (22/5/2019).

Untuk mengedukasi masyarakat agar memperlakukan uang rupiah dengan baik sehingga tidak lusuh, sobek, terlipat atau rusak, perlu adanya tempat penukaran uang lusuh. "Karena uang rupiah adalah bagian dari simbol kedaulatan NKRI," papar Heroe Poerwadi 

Kali ini, yang jadi sasaran program meminimalisir uang lusuh adalah pasar Beringharjo, yang dimungkinkan memiliki aktivitas besar. Selain itu, di pasar Beringharjo ini peredaran uang lusuh banyak ditemukan.

Bagi Heroe Poerwadi, pasar tradisional memiliki pesona tersendiri yang dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat. Dan pasar Beringharjo selain sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat, juga sebagai salah satu ikon wisata yang ada di Kota Yogyakarta.

"Sehingga keberadaan uang bersih di pasar tradisional akan sangat menjadi daya tarik bagi pengunjung," ungkap Heroe sambil menjelaskan jika para pedagang ingin menukarkan uang lusuhnya, Pemkot Yogya dan Bank Indonesia DIY sudah menyiapkan agen yang bertugas untuk mengumpulkan uang tersebut.

Nantinya, para pedagang kalau ingin menukar uang lusuh menjadi uang yang tidak lusuh bisa dilakukan melalui bank. "Nanti bank yang akan mengembalikan ke Bank Inonesia," kata Heroe.

Sementara itu, Deputi Bank BI Perwakilan DIY Sri Fitriani menjelaskan, semua uang lusuh dapat ditukar dengan yang baru. "Sementara untuk uang yang sudah rusak seperti dimakan rayap juga tetap bisa ditukar," kata Sri Fitriani yang menjelaskan dengan catatan uangnya masih utuh 2/3 atau masih bisa dikenali.

Kriteria uang yang dapat ditukarkan adalah untuk uang lusuh atau lecek syarat penukarannya masih bisa dikenali keasliannya. Untuk uang kertas memiliki fisik lebih besar dua pertiga dari ukuran aslinya. 

Dikatakan Sri Fitriani, ciri uang itu dapat dikenali keasliannya dan merupakan satu kesatuan dengan atau tanpa nomor seri lengkap. (Affan)