Pencarian Berita


Terima Uang Dan Barang, Mantan Kalapas Sukamiskin Dituntut Pidana Penjara 9 Tahun

Terima Uang Dan Barang, Mantan Kalapas Sukamiskin Dituntut Pidana Penjara 9 Tahun

BANDUNG -  Penuntut Umum KPK menuntut agar Wahid Husen (54) dihukum dengan pidana penjara selama 9 tahun. Terdakwa sudah terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Dakwaan Primair yaitu Pasal 12 huruf b UU RI No. Pasal 12 huruf b UU No. 31 Tahun 1999 Tentang PTPK Sebagaimana telah Diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 2001 Tentang PTPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana jo. Pasal 65 ayat (1) KUHPidana

Hal tersebut disampaikan oleh Penuntut Umum KPK,  Trimulyono Hendardi dihadapan Majelis Hakim yang diketuai  Daryanto, SH (6/3/2019). Dalam amar Tuntutannya Trimulyono menyebutkan, Menjatuhkan pidana penjara 9 (sembilan) tahun pidana penjara serta pidana denda sebesar Rp400 juta Subsider 6 (enam) bulan sebagaimana diatur dalam dakwaan primair," ujarnya.

Mantan Kalapas Sukamiskin Bandung itu,  bersama - sama dengan Hendry Saputra (37)  dituntut sebagai penerima gratifikasi dari 3 Napi di Lapas Sukamiskin Bandung.

Tim Penuntut Umum KPK yang terdiri dari Ikhsan Fernando Z, Kresno Anto Wibowo, Dian Hamisena, M. Takdir Suhan dan Trimulyono Hendardi menuntut Wahid Husen dan Hendry Saputra dalam berkas terpisah. Menurut Penuntut Umum KPK, selaku Kepala Lapas klas 1 Sukamiskin Bandung menerima hadiah berupa sejumlah uang dan barang dari warga binaan yang sebagian besar diterima oleh terdakwa melalui Hendry Saputra selaku staf umum merangkap sopir Kalapas Sukamiskin masing-masing dari Fahmi Darmawansyah berupa 1unit mobil jenis double Cabin 4x4 merk Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sandal merk Kenzo, 1 buah tas cluth bag merk Louis Vuitton dan uang dengan jumlah Rp39.500.000,-, kedua dari Tubagus Chaeri Wardhana alias Wawan berupa uang dengan jumlah Rp63.390.000,- dan ketiga dari Fuad Amin Imron dengan jumlah Rp71.000.000,-, mendapatkan fasilitas dipinjamkan mobil Toyota Innova serta dibayari menginap di Hotel Ciputra Surabaya selama 2 malam.

Dalam hal ini terdakwa mengetahui atau patut menduga bahwa sejumlah hadiah tersebut diberikan karena telah memperbolehkan ataupun membiarkan Fahmi Darmawansyah, Wawan dan Fuad Amin Imron sebagai warga binaan (narapidana) Lapas Sukamiskin mendapatkan berbagai fasilitas istimewa di dalam Lapas temasuk dalam pemberian ijin keluar dari Lapas yang bertentangan dengan kewajiban Wahid Husen sebagai mana diatur dalam UU No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN. 

Diawali pada 21 Maret 2018, terdakwa mengumpulkan seluruh warga binaan dalam rangka pengarahan dan memperkenalkan diri selaku Kalapas yang baru. Acara tersebut kemudian dilanjutkan dalam pertemuan khusus antara terdakwa dengan Paguyuban Narapidana tipikor (tindak pidana korupsi) yang diwakili Djoko Susilo, Fahmi Darmawansyah dan Wawan yang pada pokoknya memohon agar terdakwa dapat memberikan "kemudahan" bagi narapidana tipikor untuk ijin keluar Lapas, baik itu ILB  Ijin Luar Biasa) ataupun Ijin Berobat ke rumah sakit dan permohonan ini lalu diakomodir oleh terdakwa. 

Terdakwa mengetahui beberapa narapidana tipikor mendapatkan sejumlah fasilitas istimewa seperti kamar Lapas yang dilengkapi yang dilengkapi AC dan televisi serta menggunakan telepon genggam (hp) namun terdakwa membiarkan ataupun memperbolehkan hal demikian itu terus berlangsung sehingga atas sejumlah fasilitas dan kemudahan dalam hal ijin keluar Lapas tersebut. Terdakwa melalui Hendry Saputra menerima sejumlah hadiah berupa barang dan uang yaitu dari ketiga warga binaan tersebut. Majelis Hakim menunda persidangan guna memberi kesempatan kepada terdakwa dan para Penasehat Hukumnya untuk menyusun Nota Pembelaan/Pledoi. (Y CHS).