Pencarian Berita


Peringati Hari Pers, FJ-PM Bersama Gemasuba Ziarah Makam Tokoh Pers

Peringati Hari Pers, FJ-PM Bersama Gemasuba Ziarah Makam Tokoh Pers

HALMAHERA SELATAN  - Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari 2019 hari ini, juga diperingati Forum Jurnalis dan Pemerhati Media (FJ-PM) Kabupaten Halmahera Selatan bersama generasi Muda Sultan Bacan (Gema Suba), dengan melakukan ziarah ke makam salah satu tokoh pers nasional, Boki Fatma Binti Muhammad Usman Sadik yang di gelar princes Kasiruta.


Ziarah dan Pembacaan do'a di makam Princes Kasiruta ini di pimpin ustadz Ikhwan dan di hadiri koordinator FJ-PM Irwan Marsaoly bersama sejumlah wartawan dan ketua Gema Suba M. Husni Muslim dan pengurus Gema Suba di areal pekuburan Arab bukit Borero Desa Amasing Bacan, Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, Selasa (9/2/2019), sore tadi.


Koordinator FJ-PM Halsel, Irwan Marsaoly mengatakan, ziarah ke makam anak dari Sultan Bacan Muhammad Usman Sadik ini dilakukan untuk memgenang jasa Almarhumah atas pengabdiannya terhadap dunia Pers di zaman Hindia belanda.


"Momentum Hari Pers Nasional ini, kami bersama gemasuba melakukan ziarah ke makam Boki Fatma untuk mengenang jasa dan peran Boki Fatma terhadap dunia pers,"jelas Irwan yang juga wartawan senior.


Menurutnya, apa yang dilakukan Boki Fatma yang juga di gelar princes Kasiruta, pada zaman itu harus dibanggakan, karena putri Sultan Bacan ini ikut berjuang bersama suaminya RM Tirto Adhi Soerjo yang merupakan tokoh Pers Nasional itu melalui media massa di zaman Hindia Belanda.


Sementara itu, ketua Gema Suba, M Husni Muslim menjelaskan, Boki Fatma binti Sultan Muhammad Usman Sadik adalah salah satu tokoh Pers yang ikut membantu suaminya Tirto Adhi Soerjo yang merupakan tokoh perintis Pers dan juga tokoh Pers Nasional, menerbitkan koran 'Medan Prijaji' di tanah Jawa pada 5 Oktober 1910. 


Harian ini mendapat sambutan baik dari pembacanya saat itu dan mampu bersaing dengan koran terbitan milik Belanda.
Namun, masa hidupnya Medan Prijaji tak terlalu lama. Surat kabar yang mengedepankan kepentingan pribumi itu terbit terakhir pada 3 Januari 1912 dan pada 23 Agustus 1912 Medan Prijaji pun ditutup oleh pemerintah kolonial lantaran isi surat kabar itu selalu berseberangan dengan pemerintah kolonial saat itu.  (Iron)