Pencarian Berita


SANGAT SEDIKIT PENINGGALAN NASKAH KUNO: Keraton Yogyakarta Gelar Simposium Internasional

SANGAT SEDIKIT PENINGGALAN NASKAH KUNO: Keraton Yogyakarta Gelar Simposium Internasional

YOGYAKARTA -- Hingga saat ini hanya tinggal sedikit peninggalan naskah-naskah kuno atau manuskrip asli yang tersisa dan tersimpan di museum atau di Keraton Yogyakarta setelah hilang dan ditemukan di British Library Inggris. Misalnya, manuskrip "Teaching of Hamengku Buwono I", yang berisi cara memimpin dan hal yang diajarkan Sri Sultan HB I.

Dalam catatan sejarah, Keraton Yogyakarta kehilangan banyak naskah yang berisi berbagai ajaran leluhur sejak peristiwa Geger Sepehi tahun 1812. Berbagai naskah yang telah 207 tahun berada di Inggris, tahun ini akan diserahkan kepada keraton dalam bentuk digital. 

Tahun 2019 ini, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar mangayubagya 30 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertahta berdasarkan tahun Masehi pada tanggal 7 Maret 2019. Mangayubagya itu dilaksanakan berdasarkan kalender Jawa dalam upacara sugengan yang dilanjutkan dengan Labuhan.

Berkaitan hal itu, dalam rangkaian Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang menggelar peringatan Tingalan Jumeneng Dalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X akan digelar simposium Internasional yang mengangkat tema besar ”Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta". 

"Hal itu diharapkan mampu menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya Jawa yang terkandung di dalam naskah-naskah lama," terang GKR Hayu selaku ketua panitia simposium internasional di Bale Raos, Kraton, Yogyakarta, Jum'at (8/2/2019).

Dan, untuk menyemarakkan peringatan itu sejak tanggal 5 Maret 2019 hingga 7 April 2019 akan digelar rangkaian acara simposium internasional dan pameran naskah Keraton Yogyakarta.

"Momentum ini dianggap penting untuk diperingati dengan kegiatan akademik agar pengetahuan Jawa yang telah lama hilang bangkit kembali," kata GKR Bendara.

Menurut GKR Hayu, simposium internasional yang akan dilaksanakan pada 5-6 Maret 2019 di Grand Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel akan dibuka dengan Beksan Jebeng, yang merupakan karya pendahulu Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian dilanjutkan pidato pembukaan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

Selama dua hari, diskusi akan dikemas dalam empat topik: sejarah, sastra, seni dan sosial-budaya. Dan diskusi akan membahas peristiwa seputar Geger Sepehi di Keraton Yogyakarta (sejarah), naskah-naskah Keraton setelah peristiwa Geger Sepehi (filologi), pertunjukan seni dan naskah Keraton Yogyakarta serta naskah Keraton dan ilmu pengetahuan sosial-budaya.

Ketika hanya tinggal tiga naskah kuno yang tersisa kita pu  kehilangan nilai luhur. "Sayang, bila generasi muda sekarang tidak tahu kehilangan apa," jelas GKR Hayu, puteri ke empat Sri Sultan HB X.

Bagi GKR Hayu, sudah lama keraton mencoba mengembalikan naskah-naskah kuno itu ke Indonesia. "Salah satunya dengan membawa pulang manuskrip dalam bentuk digital," terang GKR Hayu yang menambahkan saat ini ada 75 manuskrip yang ada di Inggris dan Belanda mulai didigitalisasi.

Di sisi lain sebagaimana dikatakan Ketua Panitia Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara, digitalisasi naskah kuno ini sebagai titik awal mengembalikan manuskrip dari berbagai belahan dunia. "Dan keraton akan mencoba mengumpulkan jejak sejarah yang selama ini hilang," tetang GKR Bendara. (Anne)