Mon,19 November 2018


Dua Terdakwa Siber Crime Terancam Pidana 12 Tahun

Indofakta 2018-11-06 20:11:31 Hukum / Kriminal
Dua Terdakwa Siber Crime Terancam Pidana 12 Tahun

BANDUNG - Dua Terdakwa, Dedek Saputra Chaniago dan Adithya Rahman harus menghadapi sidang di Pengadilan Negeri Bandung  Kelas I A. Keduanya didakwa telah melakukan kejahatan sebagaimana dimaksud dalam UU No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE Jo. Pasal 55 ayat (1) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara 12 tahun dan atau denda sebesar Rp2 milyar. 

Perbuatan keduanya diuraikan JPU (Jaksa Penuntut Umum), Agus Khausal Alam, SH.,MH, Dkk bahwa pada 11 Maret 2018 - 22 Maret 2018, bertempat di jl. Bayem No. 1 B Kelurahan Lingkar Selatan Kecamatan Lengkong Kota Bandung. Terdakwa dengan menggunakan komputer (alat untuk memproses data elektronik, magnetik, optik atau sistem yang melaksanakan fungsi logika, aritmatika, dan penyimpanan) yaitu macbook Apple Pro Retina 2014 ukuran 13 inch, serial number : C02NRQGGQH, warna Silver serta mengakses Sistem Elektronik guna memperoleh informasi Elektronik yang terdakwa Dedek mempergunakan untuk melakukan pembelian online di situs E-Commerce (penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan Jasa melalui sistem elektronik) dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain atau Carding dengan cara awalnya terdakwa membuat Spam (penggunaan perangkat elektronik untuk mengirimkan pesan secara bertubi-tubi tanpa dikehendaki penerimanya) yaitu dengan membuat Website (kumpulan dari berbagai) macam halaman situs, yang terangkum di dalam sebuah domain atau juga subdomain, yang lebih tepatnya berada dalam internet) paypal (Sistem Pembayaran secara elektronik yang menggantikan transaksi konvensional berupa cek dan transfer uang) palsu. Selanjutnya terdakwa mencari email -email yang melakukan transaksi pembelian melalui Website e-commerce. Adapun terdakwa mendapatkan email - email tersebut dengan menggunakan aplikasi SQLi Dumper v.80 (sebuah alat yang berfungsi mencari website - website yang memiliki kelemahan injeksi SQL. Alat ini bekerja dengan memasukkan input format atau URL tertentu seperti buy, lho?id.order.php = country : CA, UK, AU : . Alat ini menggunakan kekuatan mesin pencari seperti google, yahoo, bing, aol dan lainnya untuk menemukan lebih banyak website) ketika Dedek menggunakan SQLi Dumper, terdakwa memasukkan berbagai macam google spek yaitu mesin untuk mencari/search Engines sehingga dapat memudahkan Google untuk mencari alamat, password dan lain -lain dengan cara mengedit script yang ada di aplikasi SQLi Dumper untuk mencari email yang digunakan untuk melakukan pembelian dari negara Kanada, Inggris dan Australia terdakwa menulis script buy.php?id.order.php = country : CA, UK, AU. 

Setelah terdakwa mendapatkan informasi Elektronik tersebut berupa data - data yang berisi nomor kartu kredit, data diri, foto pribadi, foto kartu kreditnya depan belakang, kemudian terdakwa mempergunakan kartu kredit untuk melakukan pembelian online di situs e-commerce dengan menggunakan kartu kredit milik orang lain yaitu : 1. Susan M Durdin, alamat Australia dengan pembelian kamera GoPro seharga 599 AUD di DJ City ; 2. Michael Dillon alamat di Australia, pembelian Kamera GoPro seharga 599 AUD dan Kamera GoPro seharga 708 AUD ; 3. Peter Stevenson, alamat Australia, pembelian 4 k 360 Fly Camera seharga 613.95 AUD ; 4. Megan Hutchinson, Australia dengan pembelian Kamera GoPro seharga 499 AUD ; 5. Olivia Krecichwost, Australia pembelian baju seharga 378.98 AUD ; Megan Jones, Australia, pembelian Kamera GoPro dan asesoris seharga 831 AUD dan baju seharga 379.70 AUD serta banyak lagi barang-barang yang berhubungan dengan kamera. 

Setelah terdakwa mendapatkan barang - barang tersebut yang dibeli nya dengan menggunakan kartu kredit orang lain, kemudian menyuruh Adhitya Rahman (yang dikenal nya melalui status facebook pada Desember 2017 "ready dropper AU," kemudian terdakwa mengirimkan pesan untuk mengajak kerjasama karena Adhitya memiliki dropper/penerima barang di Australia dan terkait keuntungan sesuai dengan keinginan terdakwa). Adhitya lalu mengirimkan nama droppernya yaitu Stevanie Angelina. 

Bahwa terdakwa mengirimkan isi email - email yang merupakan bukti - bukti bahwa barang hasil cardding tersebut terdakwa beli dari situs e-commerce Australia pada saat mengisi di situs e-commerce tersebut terdakwa menulis STEVANIE ANGELINA dengan ID 0420336439 alamat UNIT 108 C ESPRIT BRIDGEHILL.1 MULLER LN.MASCOT NSW 2020 dan 7 VICTORIA ST. PARAMATTA PARK CAIRNS OLD 4870 sebagaimana kesepakatan Dedek dengan Adhitya. Tujuan Dedek mengirimkan email ke Adhitya adalah agar Adhitya mengirimkan bukti email tersebut ke Stevanie untuk mengambil barang hasil cardding tersebut di kantor post Mascot, Australia. Barang - barang yang mayoritas berbentuk kamera dan pakaian tersebut dijual Dedek ke beberapa orang di berbagai tempat.

Perbuatan Dedek bersama Adhitya dan Stevanie Angelina (diadili di Australia) dapat diketahui oleh Tim dari Siber Bareskrim Polri yang berawal dari Surat Konsulat Jenderal RI di Sidney perihal kasus Pembelian Online oleh WNI  di Indonesia dengan menggunakan kartu kredit beberapa warga Australia didukung dengan laporan Queensland Police Service Case File Id Magistrates Court serta surat Kemenlu  RI. Pada sidang hari ini (6/11/2018), JPU menghadirkan 5 orang saksi. Agenda sidang mendatang masih pemeriksaan para saksi. (Y CHS). 

 

 

Berita Terkait