Mon,19 November 2018


BPI Gelar Diskusi Kebangsaan Menangkal Berita

Indofakta 2018-11-01 14:16:12 Serba Serbi
BPI Gelar Diskusi Kebangsaan Menangkal Berita

BANDUNG - Dengan teknologi yang sudah serba canggih dan modern di era digital, tentunya suguhan informasi yang diterima oleh masyarakat untuk menjadikan sumber informasi yang akurat dan benar harus terlebih dahulu disaring. Berita yang diterima jangan langsung dianggap benar karena berita yang bermunculan di dunia maya seperti di Media Sosial banyak berita Hoax tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. 



Barisan Pelopor Indonesia (BPI) yang dikomandoi Tubagus Rahmad Sukendar pada hari, Rabu, 3I/10/18 menggelar acara Diskusi Kebangsaan dengan mengambil tema :  'Peran serta Ulama, Umaro, Pemerintah bersama Polri dalam menangkal Hoax menuju Pilpres yang aman, damai dan Sukses.' 



Acara yang diselenggarakan, di Hotel Rivoli Kramat Raya Jakarta- Pusat dan dihadiri 100 undangan dari Ormas Relawan Jokowi Macan Asia, Badan Peneliti Indpenden Kekayaan Penyelenggara Negara Pengawas Anggaran Republik Indonesia(BPI KPN PA RI), Barisan Pelopor Kerukunan Lintas Agama, Sahabat Polisi, dan anggota dari Barisan Pelopor Indonesia.



Dalam kesempatan tersebut Drs.Tubagus Rahmad Sukendar, SH.selaku Ketua Umum Barisan Pelopor Indonesia dalam sambutannya mengucapkan terima kasih atas kehadiran dari Karo Multi Media Polri Brigjen Pol. Drs Budi Setiawan MM, Asdep 1Kemenkopolhukam diwakili oleh Kolonel Inf. Syaiful MS, Asdep V Polhukam, Drs H Erwin C Rusmana, SH.,MH mewakili Deputi V Polhukam.


"Yang hadir pada acara Diskusi Kebangsaan Barisan Pelopor Indonesia menyampaikan sambutan nya bahwa Peran serta komponen masyarakat, Ulama dan Pemerintah bersama - sama menangkal berita hoax yang akan mengganggu ketentraman masyarakat yang berakibat dapat menimbulkan kegaduhan di tahun politik. Banyak oknum - oknum yang berseberangan terhadap Pemerintah telah menciptakan kegaduhan di masyarakat antara lain dengan mengirimkan berita berita bohong terkait adanya sentimen agama, penculikan anak, dan berita hoax lainnya yang banyak masuk di media sosial di era zaman digital sekarang ini harus benar benar cerdas dan pintar dalam menerima informasi dari manapun juga dan kita harus berani menangkal serta menolak hoak yang nantinya akan mengganggu stabilitas keamanan nasional," tegas Rahmad dalam Sambutan kepada para peserta Diskusi Kebangsaan dan rekan-rekan jurnalis.        

Rilis yang diterima indofakta.com dari Yunan Buwana selaku mewakili Rahmad Sukendar di Bandung (1/11/2018) mengabarkan, Dengan diadakan acara diskusi nasional ini tentunya kepada para peserta yang hadir dapat memberikan informasi yang benar kepada masyarakat agar setiap kita menerima berita di Media Sosial maupun di lainnya harus dapat dicerna kebenarannya jangan langsung kita share ke pihak lain berita yang belum tentu benar dan akurat alias hoax, lanjutnya.



Dalam acara diskusi di hadirkan para Narasumber yang berkompeten diantaranya dari Asdep V Polhukam, Drs Erwin C Rusmana, SH., MH secara gamblang telah menjabarkan, bahwa Hoax telah di desain oleh kelompok tertentu yang di sebar kemasyarakat untuk membuat masyarakat cemas dan takut serta terprovokasi sehingga negara dianggap tidak mampu dalam menjaga keamanan menjelang Pilpres 2019 ini. 



"Antara lain isu-isu yang di gulirkan kemasyarakat ada yang berkedok agama sehingga akan mengganggu kerukunan umat beragama dan berdampak dapat merusak, memecah belah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dan dari hasil diskusi ini dari Tim Pakar Barisan Pelopor Indonesia dapat memberikan Rekomendasi kepada Kapolri, Kemendagri, Kementrian Agama, dan Kemenkumham untuk nantinya dapat menjadi Acuan Pemerintah dan dapat disosialisasikan secara terus - menerus kepada masyarakat di NKRI terkait Hoax.               



Sinergitas para Ulama, umaro, Pemerintah, Polri, TNI, elemen masyarakat, dan Ormas untuk secara bersama - sama dapat menangkal berita Hoax dimanapun juga karena kita adalah bangsa yang besar dengan Kekuatan Para Ulama dapat kita tangkal Hoax dari NKRI," tandas Erwin. 



Lebih lanjut, dan hoax bukan saja sekedar isu tetapi sudah menjadi satu kekuatan sistemik dan dengan adanya dialog kebangsaan yang di selenggarakan oleh Barisan Pelopor Indonesia dapat menjadikan Momentum yang baik untuk kita semua bangkit bersama - sama dengan Komponen Bangsa  bersinergi dalam mengcounter berita - berita Hoax tandas Erwin C Rusmana kepada para peserta diskusi. 



Saipul yang mewakili Deputi I Menkopolhukam menjelaskan bahwa. "peran pemerintah untuk menangkal Hoax dengan adanya UU ITE bagi sanksi bagi penyebar berita yang tidak benar, tentunya dengan adanya Undang -  Undang ITE dapat menangkal berita berita Hoax. Sepertinya isu - isu berita menarik dan berita itu bisa digoreng sesuai kebutuhan," tegas Saipul.


lebih lanjut ditegaskannya, dengan penagkalan penangkalan berita hoax itu dari Kepolisian sudah mempunyai alat - alat yang cangih dan para penyebar berita hoax yang benar atau tidak sudah bisa ketahuan dan sudah banyak yang terungkap penyebar berita hoax. 



Kiyai Yusuf al mubarok yang tampil dalam diskusi ini menjelaskan, "hoax ini timbul dari tidak adanya keimanan berarti mengcounternya harus di isi keimanan terlebih dahulu, dia bohong karena tidak tahu dan harus diberi tahu. Tabayun artinya klarifikasi dahulu sebelumnya dan jangan langsung percaya saja denga berita hoax," tegas Yusup selaku narasumber diskusi kebangsaan tersebut. 



Ditegaskan oleh Yusuf, ada hoax yang berupa fitnah, dan ada berupa tidak fitnah. Hoax yang ada di medsos untuk mengkalnya yaitu saya setuju dengan adanya tim Ceyber yang bisa menangkal berita hoax di medsos harus orang yang agamis dan Nasionalis. Saya menyarankan kepada pemerintah harus ada tim yang khusus tahu tentang agama Islam dan ada yang hoax tentang ekonomi, Politik. Kesimpulannya karena timbul karena tidak ada keimanan, dan timbul karena ketidaktahuan. 


Di tempat yang sama, Karo Multimedia Mabes Polri, Brigjen Budi Setiawan menegaskan penanganan hoax disolisasikan terus - menerus dan hoax ini terkenal belum lama kalau pada tahun dulu itu bukan Hoax tapi penipuan yang contohnya mama minta pulsa. 

 

"Tentunya masyarakat dengan mendapatkan informasi yang diterima jangan mudah gampang dan pengaruh dengan berita yang diterima harus di cek terlebih dahulu keberadaan cek and croscek karena berita hoax ini kalau kita terpengaruh tentunya dampak besarnya dapat bisa menghancurkan dan memecah - belah bangsa, maka dari itu berita yang kita terima ini harus di filter terlebih dahulu isinya.


"Dan saya terus mensosialisasikan Berita Hoax. Kelihatannbya sepele tetapi dapat memporak porandakan seperti di negara luar, arti hoax ujaran kebencian atau kebohongan," tandas Jenderal bintang satu ini. 


"Tentunya menjelang Pilpres ini mari kita menjaga situasi yang kondusif dengan berita - berita yang benar yang ada di Medsos agar pilpres menimbulkan rasa persaudaraan yang kuat satu sama lainnya. Semua eleman Masyarakat, stakeholder, para ulama mari kita bersatu untuk terus menangkal berita berita Hoax yang ada selama ini dengan ketidakbenarannya yang dapat ketidaknyamanannya di tengah - tengah masyarakat, ajaknya. (Y CHS).

Berita Terkait