Tue,13 November 2018


POGI Cabang Yogyakarta Prihatin Melihat AKI yang Cukup Tinggi

Indofakta 2018-10-30 14:57:49 Daerah
POGI Cabang Yogyakarta Prihatin Melihat AKI yang Cukup Tinggi

YOGYAKARTA -- Sekitar 830 orang wanita -- berdasar data WHO (2015) -- meninggal setiap harinya karena kondisi kehamilan dan kelahiran, yang sebenarnya bisa dicegah. Dan 303 ribu wanita meninggal saat hamil dan melahirkan. Ironisnya, 99 persen seluruh kematian maternal itu terjadi di negara berkembang.

Pada tahun 2015, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih berada di atas negara Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Di Asean, angka kematian ibu di Indonesia menempati urutan kedua setelah Laos: 306 kasus kematian (2015).

Kasus kematian ibu di DIY 84 per 100 ribu kelahiran. Angka tersebut terendah di Indonesia yang mencapai 305 per 100 ribu kelahiran. Dan di DIY merupakan salah satu penyumbang angka kematian ibu yang cukup besar: 66 kasus (2015).

Tren angka kematian menunjukkan peningkatan dari 66 kasus kematian (2015) menjadi 86 kasus kematian (2016). Dan hal ini tetap menjadi perhatian serius meski dari tahun 2016 ke tahun 2017 terjadi penurunan dari 86 menjadi 84 kasus kematian.

Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Yogyakarta merasa prihatin melihat angka kematian ibu yang masih cukup tinggi. Dan POGI Cabang Yogyakarta sedang melakukan akselerasi penurunan angka kematian ibu melalui POGI Jogja Fest 2018 yang berlangsung pada Minggu, 28 Oktober 2018 di Balaikota Timoho Yogyakarta.

"Kami menargetkan dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan yakni tahun 2028, kasus kematian ibu melahirkan di DIY akan turun menjadi 27 per 100 ribu kelahiran," tutur Dr dr Diah Rumekti Hadiati, MSc, SpOG (K), Ketua Persatuan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Yogyakarta, hari ini.

Menyinggung POGI Jogja Fest 2018, dijelaskan dr Diah Rumekti, hal itu untuk meningkatkan kesadaran penyelenggara pelayanan kesehatan, pihak pembuat kebijakan dan masyarakat, untuk saling bekerja sama menaikkan derajat kesehatan ibu hamil melalui merencanakan kehamilan sebaik!-baiknya, melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratut dan merencanakan persalinan yang aman.

"Konsep itu biasa dikenal dengan istilah bibit apik, mbobot tumata dan babaran slamet," papar Dr dr Diah Rumekti Hadiati, MSc, SpOG(K).

Ditambahkan dr Irwan Taufiqur Rachman, SpOG(K), kematian ibu melahirkan antara lain disebabkan perdarahan dan terlambat dibawa ke rumah sakit. 

"Bagi mereka yang sejak awal sudah

terdeteksi bahwa kehamilannya ada masalah bila melahirkan, hal ini bisa langsung dirujuk ke rumah sakit saat melahirkan," kata Irwan Taufiqur Rachman.

Namun, kata Irwan, kadang ibu hamil tersebut sehat, tetapi punya risiko. "Masalahnya adalah kebijakan sistem rujukan sekarang ini, ibu yang berisiko namun belum sakit tidak bisa langsung dirujuk ke rumah sakit," kata Irwan, yang menambahkan akibatnya banyak ibu melahirkan yang dirujuk ke rumah sakit sudah dalam keadaan terlambat dan bahkan meninggal karena perdarahan saat melahirkan.

Melihat kondisi yang ada, maka POGI Cabang Yogyakarta bekerjasama dengan Pemda DIY membuat program untuk menyadarkan kepada seluruh masyarakat bahwa kalau ada orang hamil, keluarga, suami dan siapa saja harus waspada dan akan lebih perhatian terhadap wanita hamil yang mempunyai risiko.

“Meskipun belum sakit, harusnya dirujuk dari awal. Namun kebijakan asuransi sekarang,  kalau tidak sakit belum boleh dirujuk. Padahal preventif lebih bagus dan murah daripada pengobatan dilakukan ketika sakit," kata Dr dr Eugenius Phyowai Ganap, SpOG(K).

Bahkan, hal itu bisa

mengakibatkan orang meninggal. "Karena itu ada beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan di antaranya bagi ibu hamil yang berisiko saat melahirkan bisa dirujuk ke rumah sakit dengan menggunakan Jamkessos atau Jamkesda,” jelas dr Eugenius Phyowai Ganap.

POGI Cabang Yogyakarta juga mengusulkan adanya sistem rujukan yang

terdekat dan penolong persalinan harus punya rujukan yang tepat dan

cepat. Sehingga nantinya di tahun 2028 sudah tidak ada lagi kematian ibu melahirkan karena perdarahan. (Affan)

 

Berita Terkait


 Terbaru