Tue,13 November 2018


Wahyu Swandana Diadili Meski Kerugian Negara Telah Selesai

Indofakta 2018-10-24 21:09:09 Hukum / Kriminal
Wahyu Swandana Diadili Meski Kerugian Negara Telah Selesai

BANDUNG - Wahyu Swandana (53) kini harus diadili di Pengadilan Tipikor Bandung. Pasalnya terdakwa turut serta melakukan tindak pidana korupsi tak kurang dari Rp177.300.000,-

Diadilinya terdakwa adalah berkaitan dengan Tedi Kuntadi selaku Direktur Utama CV. Jhayanti (dalam berkas terpisah dan telah menjalani hukuman di Rutan Kebon Waru Bandung, red). Pada tahun 2015, Dinas Pendidikan Kabupaten Garut terdapat kegiatan di bidang sarana dan prasarana dengan dana sebesar Rp19.721.584.900,- yang berasal dari DAK (Dana Alokasi Khusus) APBD Kabupaten Garut TA 2015. Dari dana tersebut, sesuai dengan ijin ia dan juklak DAK Kementrian Pendidikan yaitu 80 % untuk penggunaan fisik bangunan sekolah dan 20 % untuk pengadaan alat - alat pendidikan diantaranya dialokasikan di SMKN 02 Garut. 

Untuk SMKN 10 Garut sesuai dengan SPK No. 01-PPK/Pengsung/DAK-25/Bidsarpras/IX/2015 tanggal 11 September 2015 antara Dinas Pendidikan Garut dengan pihak Penyedia Barang yaitu CV. Jhayanti dialokasikan dana sesuai dengan nilai kontrak Rp198 juta untuk Kegiatan Pengadaan Alat Teknik kendaraan ringan dan untuk SMKN 02  sesuai SPK No. 01-PPK/Pengsung/DAK-SMK15/Bidsarpras/2016 tanggal 11 September 2015  antara Dinas Pendidikan Kabupaten Garut dengan CV. Jati Lana Jaya dengan Direktur Utamanya H. Ade Rijal dialokasikan dana sesuai nilai kontrak sebesar Rp199.210.000,- 

Dalam pelaksanaannya, kedua perusahaan tersebut menyerahkannya kepada terdakwa Wahyu Swandana. Pada proses kegiatan dan proses administrasi pencairan dananya menyimpang dan bertentangan dengan Peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan dan pengadaan barang/jasa pemerintah.

Setelah diterbitkan SPK  tersebut di atas, Wahyu membuat kesepakatan dengan kedua petinggi penerima SPK akan melaksanakan kegiatan sesuai SPK  yaitu 28 item dengan CV. Jhayanti dan 15 item dengan CV. Jati Lana Jaya.

Dalam kenyataannya, Wahyu Swandana sama sekali tidak melaksanakan kegiatan sesuai 2 SPK tersebut padahal dananya sudah dicairkan 100 %. Kedua Direktur Utama perusahaan tersebut secara berkala menanyakan kepada Wahyu tanpa mengecek ke lapangan perkembangan pekerjaan. 

Uang yang telah dicairkan 100 % dari 2 SPK lalu dinikmati masing-masing oleh : 1. Wahyu Rp30 juta ; 2. Drs. Sumantri Rp100 juta ; 3. Mahmud selaku Kadisdik Kabupaten Garut Rp200 juta ; 4. H. Ade Rijal Rp3 juta dan 5. Tedi Kuntadi Rp3 juta. Dalam keterangan para saksi dalam persidangan bahwa semua kerugian negara telah dikembalikan oleh para terdakwa terdahulu yaitu Mumuh, Sumantri dan Deni. Ketiganya kini telah bebas dari hukuman. Jadi tidak ada lagi kerugian negara, kata Ira M. Mambo selaku Penasehat Hukum terdakwa (24/10/2018). Namun terdakwa harus tetap diadili untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya secara pidana. Sudah 6 orang saksi dihadirkan dan sidang akan dilanjutkan pekan depan, tambah Ira. (Y CHS).

Berita Terkait


 Terbaru