Pencarian Berita


Dr Sukamta Bersama Generasi Milenial Yogyakarta Nobar Film Sultan Agung

Dr Sukamta Bersama Generasi Milenial Yogyakarta Nobar Film Sultan Agung

YOGYAKARTA - Tak kurang seratus generasi milenial dan generasi muda kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DIY nonton bareng (nobar) film "Sultan Agung" garapan Hanung Bramantyo di CGV Blitz Transmart Maguwo, Sleman, Sabtu malam (2/10/2018).

 

Sebelum nobar, Dr Sukamta mengatakan bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi banyak permasalahan kebangsaan. Bukan dari sisi ideologi, tapi masalah serius yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Dalam rangka meneladani para pahlawan Nasional, Dr Sukamta, malam itu ajak kaum muda nonton film Sultan Agung. "Semoga film ini mampu menghadirkan inspirasi cinta tanah air kepada kaum muda," tandas Sukamta, anggota Komisi I DPR RI.

 

Pada kesempatan itu, Dr Sukamta, berharap kepada kaum muda untuk meneladani sosok Sultan Agung yang merupakan raja nusantara.

 

Bagi Sukamta, perjuangan Sultan Agung ketika melawan penjajah Belanda bisa menginspirasi generasi muda. "Semangatnya untuk melawan penjajah terus berkobar hingga wafatnya belum berhasil mengusir penjajah," ungkap Sukamta.

 

Menurut Sukamta, yang juga menjabat Sekretaris Fraksi PKS DPR RI, kaum muda (milenial) dengan menonton film ini diharapkan dapat mengenal sosok Sultan Agung yang merupakan Raja Mataram dan cikal bakal dari Yogyakarta.

 

Dikatakan Sukamta, film seperti ini selayaknya mendapat perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan semangat nasionalisme bangsa. Karena, sejak tahun 2014 lalu, Sukamta sudah mendorong pemerintah untuk produksi budaya yang bisa menguatkan nasionalisme Indonesia. "Pemerintah harus fasilitasi semua pihak yang punya niat baik buat produk budaya," tandas Sukamta.

 

Selama ini, pendekatan nasionalisme dengan berbagai cara sudah dilakukan pemerintah. "Tapi melalui produk budaya seperti film, komik, cerita, sinetron, web series dan produk kekinian yang lain akan mudah diterima generasi muda," kata Sukamta.

 

Melalui film itu, Sukamta berharap akan menjadi contoh bagi sineas-sineas lainnya. "Semoga akan banyak lagi mas Hanung lainnya yang bisa membuat film budaya tentang sejarah," kata Sukamta.

 

Saat ini, seperti dikatakan Sukamta, perlu digalakkan lagi upaya penguatan ruh kebangsaan dengan memunculkan lagi kisah sejarah para pahlawan yang gigih membela tanah air. "Dan sekuat tenaga memperjuangkan kemerdekaan Indonesia," papar Sukamta.

 

Salah satu upayanya, menurut Sukamta, dengan nonton bareng film perjuangan pahlawan, yang kemudian diulas dan didiskusikan. Dengan begitu, generasi muda akan mengenal lebih mendalam tentang sosok pahlawan dan kemudian meneladaninya.

 

Dipilihnya film Sultan Agung ini, seperti disampaikan Sukamta, karena beliau sosok unik dalam memperjuangkan Indonesia.

 

Dalam film ini diceritakan, setelah ayahnya Panembahan Hanyokrowati meninggal, Raden Mas Rangsang yang masih remaja menggantikannya. Kemudian diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. 

 

"Ini adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mudah," tandas Sukamta, yang menerangkan Sultan Agung -- di bawah panji Mataram -- harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang terceraiberai oleh politik VOC yang dipimpin oleh Jan Pieterszoon Coen.

 

Di sisi lain, ia harus mengorbankan cinta sejatinya dengan Lembayung dan menikahi perempuan ningrat yang bukan pilihannya.

 

Setelah mengenal sosok Sultan Agung, diharapkan rasa kebangsaan para generasi semakin tebal dan ikut menyelamatkan NKRI dari kehancuran dalam konteks kekinian. (Affan)