Fri,19 October 2018


Perekonomian Syariah Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0

Indofakta 2018-08-31 13:12:31 Edukasi
 Perekonomian Syariah Beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0

YOGYAKARTA -- Berdasarkan survei yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 143,26 juta orang yang menggunakan internet di Indonesia. Dan, 80 persennya merupakan jumlah pengguna internet yang dilakukan melalui smartphone. 

Fakta ini menjadi sebuah peluang yang diambil oleh berbagai pihak. Tak terkecuali bidang perbankan syariah dalam menghadapi revolusi industri 4.0. 

Seperti disampaikan Herbudhi Setio Tomo, dalam keynote speaker seminar Nasional "Peluang dan Tantangan Ekonomi, Keuangan dan Bisnis Syariah dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0" di ruang Amphiteater Gedung Kasman Singodimedjo Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (30/8/2018), efek dari revolusi industri tersebut harus diikuti. 

Saat ini, seperti dikatakan Herbudhi, Direktur Eksekutif Asbisindo (Asosiasi Bank Syariah Indonesia), tingkat penetrasi internet dalam aktivitas kehidupan masyarakat adalah sebesar 57 persen dan diperkirakan pada 2020 akan mencapai 88 persen. 

Hal ini yang kemudian direspon oleh perbankan dengan melakukan berbagai inovasi yang memudahkan nasabah, misalnya dengan membuat aplikasi perbankan mobile.

Peluang ini juga berlaku bagi perbankan syariah, bagaimana mereka mampu beradaptasi dengan perubahan dan kemajuan tersebut. "Karena jika dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia, perkembangan ekonomi syariah kita termasuk lambat," ungkap Herbudhi.

Ketika membicarakan ekonomi syariah, bukan hanya soal perbankan. Namun juga, Herbudhi Setio Tomo menyoal berbagai kegiatan ekonomi makro lainnya dan ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Misalnya, dalam industri makanan halal dunia, pada tahun 2016 jumlah konsumsi makanan halal adalah sebesar 1.245 miliar US dollar dan Indonesia memiliki tingkat konsumsi makanan halal tertinggi di dunia. 

"Sayangnya, kita masih berkutat dalam konsumsi dan belum merambah industri produksinya," kata Herbudhi, yang menjelaskan ini kemudian yang menjadi peluang ekonomi syariah untuk Indonesia. 

Apalagi Indonesia juga menjadi salah satu destinasi wisata halal dunia. Sedangkan untuk perbankan syariah, Herbudhi, menjelaskan, pangsa pasar industri keuangan syariah terus meningkat. 

Total aset industri keuangan syariah Indonesia hingga Mei 2018 adalah sebesar 8.38 persen terhadap total keuangan nasional. "Ini menunjukkan ada peluang yang bisa diambil dan kita ditantang untuk meresponnya," jelas Herbudhi.

Salah satu caranya adalah dengan melakukan sinergi untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang dilakukan oleh setiap elemen, baik masyarakat, akademisi, media, regulator dan bank syariah itu sendiri. "Misalnya, untuk aspek masyarakat adalah bagaimana mereka mampu untuk membuka rekening dan melakukan transaksi melalui perbankan syariah," papar Herbudhi. 

Salah satu alasan kenapa masyarakat kurang berminat dengan bank syariah, kata Herbudhi, karena fitur dan pelayanan yang belum sama dengan standar bank konvensional. "Ini yang jadi salah satu tantangan untuk bank syariah," sambung Herbudhi.

Seminar nasional itu sekaligus menjadi ajang peresmian nomenklatur baru Prodi Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam (FAI) UMY. 

Dekan FAI UMY, Dr Akif Khilmiyah, M.Ag, menyampaikan, dengan inovasi tersebut UMY mampu berpartisipasi dalam menghasilkan lulusan yang dapat berkontribusi secara positif dalam perekonomian syariah Indonesia. (Affan)

Berita Terkait


 Terbaru