Pencarian Berita


PGPAUD UAD Yogyakarta Bangun Sinergitas Menuju PAUD Berkualitas

PGPAUD UAD Yogyakarta Bangun Sinergitas Menuju PAUD Berkualitas

YOGYAKARTA -- Tantangan pendidikan anak usia dini saat ini harus dicermati. Dan saat ini, tantangan regulasi yang mengatur PAUD terus berkembang dari sisi peraturan dan dampaknya.

Hal itu disampaikan Wakil Rektor 1 UAD Bidang Konsolidasi dan Peningkatan Kualitas Akademik, Dr H Muchlas MT, sebelum membuka acara seminar nasional dan call for papers Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dengan tema "membangun sinergitas keluarga dan sekolah menuju PAUD berkualitas" di Hotel Grand Dafam Rohan Yogyakarta, hari ini.

Menurut Muchlas, PAUD adalah lembaga pendidikan yang paling fundamental untuk menyiapkan sumber daya manusia. "Untuk itu, pentingnya pendidikan guru dalam meningkatkan martabat guru," kata Muchlas, yang berharap kepada para guru untuk bersabar dengan situasi saat ini.

Menurut Muchlas, di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah saat ini ada 8.000 PAUD di seluruh Indonesia, yang guru-gurunya belum memperoleh martabat sebagai guru, yang mendapat tunjangan yang wajar.

"Tahun-tahun awal kehidupan anak merupakan hal yang sangat penting untuk pengembangan ketrampilan dasar, yang dapat membantu anak dalam mengatasi kebutuhan hidup anak di kemudian hari," papar Muchlas, yang menambahkan saat ini UAD Yogyakarta menyediakan dana Rp 0,5 miliar untuk membantu guru-guru PAUD Aisyiyah di DIY yang tersebar di Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul.

Muchlas MT berharap kepada peserta untuk menciptakan didikan PAUD yang lebih berkualitas. "Hal ini bisa kerjasama dengan keluarga dalam menciptwkwn sinergi model sekolah," papar Muchlas, didampingi ketua panitia Ega Asnatasia, MPsi, Psi.

Kehadiran Southeast Asian Ministers of Education Organization Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP), seperti disampaikan Dr Dwi Priyono,MEd (Direktur SEAMEO CECCEP), sebagai lembaga pengembangan pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga. "Ini sangat diharapkan peran aktifnya dalam penuntasan pendidikan anak usia dini di Indonesia khususnya dan umumnya di ASEAN," papar Dwi Priyono.

Pasalnya, SEAMEO CECCEP merupakan center atau pusat kajian dan pengembangan pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga untuk kawasan ASEAN.

SEAMEO CECCEP dibentuk untuk merealisasikan program pertama dari tujuh program prioritas SEAMEO, yaitu tercapainya pendidikan universal pendidikan anak usia dini dengan target anak-anak dari keluarga miskin, anak-anak yang tinggal di pedesaan, etnis yang termarjinalkan serta anak-anak berkebutuhan khusus.

Ditambahkan Dr Dwi Priyono M.Ed, untuk meningkatkan peran serta segenap lapisan, terutama stakeholder pendidikan anak usia dini, pihaknya terus melakukan sosialisasi dan komunikasi agar terwujud gagasan, program dan kegiatan demi kemajuan SEAMEO CECCEP.

Ia memaparkan, selain sosialisasi, pihaknya juga mengumpulkan stakeholder untuk meminta masukan dan saran terkait keberadaan SEAMEO CECCEP. 

"Kami ingin semua stakeholder baik lokal maupun regional untuk memberi masukan dan saran. Sehingga kehadiran SEAMEO CECCEP benar-benar dirasakan manfaatnya untuk perkembangan dan kemajuan pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga," harap Dwi.

Seperti diketahui, SEMEO CECCEP resmi berdiri pada 27 Juli 2017 dalam konferensi SEAMEO ke-49, yang dihadiri Menteri Pendidikan ASEAN di Jakarta. 

Melalui seluruh rangkaian kegiatan sosialisasi SEAMEO-CECCEP ini diharapkan semua instansi pendidikan dan pemerintah, lembaga pengembangan pendidikan serta organisasi mitra dan orgnisasi yang terkait dengan pengembangan pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga, memiliki pemahaman, kesiapan dan komitmen untuk melaksanakan tujuan SEAMEO CECCEP periode 2017-2022 secara tuntas dan maksimal.

"Sehingga hasilnya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga dikawasan Asia Tenggara,” pungkas Dwi. 

Pada kesempatan itu, Dr Sofia Hartati, MSi, Dekan FIP Universitas Negeri Jakarta dan Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Guru PAUD, sampaikan kajian terhadap peran pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di masa depan.

"Saat ini sangat penting penyelenggaraan pendidikan anak usia dini dalam menyiapkan sumber daya manusia berdasarkan kajian literatur," kata Sofia Hartati.

Bukti empirik, seperti dikatakan Sofia Hartati, menunjukkan PAUD memiliki kontribusi penting terhadap kemampuan IQ, otonomi diri, kesiapan sekolah dan kesuksesan belajar.

Menurut Sofia, PAUD berkontribusi terhadap keuntungan secara ekonomi dan sosial. "Namun, kondisi penyelenggaraan PAUD di Indonesia masih perlu penataan," tandas Sofia, yang menambahkan hal itu karena banyak yang belum memenuhi standar PAUD, yang dikeluarkan dalam Permendikbud No.137/2014.

Bagi Sofia, PAUD yang berkualitas yang dilaksanakan berdasarkan prinsip pembelajaran PAUD. "Dan sesuai dengan ketentuan standar nasional," terang Sofia.

Sementara itu, pakar parenting, Okina Fitriani, MA, Psikolog, mengatakan, pengasuhan di Indonesia terkait pandangan ibu terhadap ketrampilan sosial dan emosi anak usia 2-6 tahun dengan dimensi mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan kolaborasi, pengendalian diri dan ketekunan. "Namun untuk mengembangkan rasa ingin tahu dan ketekunan masih relatif rendah," kata Okina Fitriani.

Dikatakan Okina, hakikat PAUD membantu anak memeroleh stimulasi yang tepat agar berkembang potensi yang dimilikinya untuk bisa memasuki jenjang pendidikan selanjutnya. (Affan)