Sun,18 November 2018


Sleman Kini Miliki 44 Desa Pelopor Anti Napza

Indofakta 2018-07-12 15:06:39 Serba Serbi
Sleman Kini Miliki 44 Desa Pelopor Anti Napza

SLEMAN -- Satgas Anti Napza berbasis masyarakat yang merupakan perwakilan dari sepuluh rintisan desa pelopor bebas Napza (narkotika, psikotropika, zat adiktif) dikukuhkan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo, M.Si, di Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (12/7/2018). 

Pengukuhan ini merupakan langkah Pemkab Sleman -- melalui Dinas Sosial bekerjasama dengan BNNK Sleman -- dalam rangka memerangi peredaran Napza.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Sri Murni Rahayu, mengatakan, dengan bertambahnya sepuluh desa itu, kini Sleman memiliki 44 desa pelopor Napza. "Pengukuhan ini atas keprihatinan peredaran narkoba seperti penjajah tanpa batas di semua usia. Dan peredaran narkoba tidak hanya pada orang dewasa saja, saat ini telah menyasar hingga anak TK,” kata Sri Murni Rahayu.

Selain itu, tujuan pengukuhan Satgas Anti Napza sebagai upaya membangun jejaring masyarakat untuk menumbuhkembangkan partisipasi dan kepedulian masyarakat dalam rangka menanggulangi dan mencegah peredaran narkoba. 

Pengukuhan ini diharapkan dapat mendorong dan memotivasi masyarakat dalam melaksanakan program kegiatan rintisan desa pelopor bebas Napza. "Sehingga  generasi muda terhindar dari penyalahgunaan napza,” jelas Sri Murni Rahayu.

Sementara itu, Bupati Sleman, Sri Purnomo, menyampaikan, penanggulangan penyalahgunaan Napza merupakan sebuah prioritas yang tidak bisa ditunda lagi. "Karena merupakan ancaman serius bagi masyarakat, bahkan bagi kelanjutan generasi bangsa," tandas Sri Purnomo.

Penyalahgunaan narkoba di 34 propinsi saat inu sebesar 1,77 persen dari total penduduk Indonesia, atau sejumlah 3.376.115 orang pada kelompok usia 10-59 tahun. Data itu berdasarkan hasil survei nasional tahun 2017 bekerjasama dengan pusat penelitian kesehatan Universitas Indonesia. 

Sebanyak 12 ribu penduduk Indonesia setiap tahun tewas sia-sia akibat penyalahgunaan narkoba. Sedangkan di wilayah DIY sendiri, berdasarkan data dari BNN, prevalensi penyalahgunaan narkoba tahun 2017 adalah sebesar 1,19 persen atau sebesar 31.973  orang dari populasi penduduk kelompok usia 10-59 tahun sebesar 2.691.400  orang.

Bagi Sri Purnomo, pnanganan korban penyalahgunaan Napza memerlukan pendekatan yang kompleks. Tidak hanya secara klinis dan sosial, namun juga melalui berbagai aspek. 

“Ada tiga hal yang harus dilakukan secara simultan yakni penegakan hukum yang serius, sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat agar mereka tahu bahaya dari penyalahgunaan narkoba, dan pengurangan secara optimal dampak buruk penyalahgunaan narkoba,” ujar Sri Purnomo. (Affan)

Berita Terkait


 Terbaru