Sat,23 June 2018


Gara-gara Dititipi Koper, Zang Baiqian Dituntut Delapan Tahun

Indofakta 2018-05-31 14:08:30 Hukum / Kriminal
 Gara-gara Dititipi Koper, Zang Baiqian Dituntut Delapan Tahun

BANDUNG - Zang Baiqian (27) dituntut pidana penjara selama 8 (delapan) tahun karena terbukti melanggar Pasal 98 ayat (2), ayat (3) UURI No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Terdakwa yang warga negara China itu juga dikenakan hukuman pidana denda sebesar Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah) subsider 6 (enam) bulan kurungan. 


Tuntutan tersebut disampaikan JPU oleh Mumuh Ardiansyah, SH (31/5/2018). Menurutnya,  terdakwa pada hari Rabu, 10 Januari 2018 sekitar Jam 20.30, bertempat di Bandara Husen Sastranegara Kota Bandung secara tanpa hak memiliki atau menyimpan, menguasai, mengimpor prekusor narkotika, menerima menjadi perantara dalam jual beli dan mengirim premier narkotika. 


Masih menurut JPU, saat itu terdakwa diperiksa oleh petugas Bea dan Cukai, Alvino Ricardo Mustamu di Bandara tersebut sebelum pesawat Air Asia nomor penerbangan QZ172 asal keberangkatan Kualalumpur tujuan Bandung mendarat. Terhadap Terdakwa berasal dari Guangzou dan transit di Kualalumpur lalu dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Setelah mendarat, bagasi milik penumpang termasuk milik terdakwa diperiksa melalui alat X-Ray. Pada koper milik terdakwa ditemukan adanya citra yang mencurigakan. Koper milik terdakwa lalu dibuka dan ditemukan ada citra yang mencurigakan berwarna hijau. Atas dasar tersebut pihak Bea dan Cukai membongkar terhadap  plastik. Ternyata isinya 2 (dua) buah handuk namun ketika akan dilakukan pemeriksaan ada keanehan terhadap handuk dalam kondisi dijahit.


Karena kecurigaan tersebut pihak Bea dan Cukai lalu melaporkannya ke Satuan Narkoba Polrestabes Bandung untuk ditindaklanjuti. Dalam hal ini pihak Bea dan Cukai mengamankan terdakwa berikut barang bukti berupa 1 (satu) buah tas koper warna biru dan putih berisikan 2 (dua) buah handuk warna merah muda dan warna abu-abu yang masing-masing di dalamnya berisi serbuk warna putih. 


Sebelum datang ke Indonesia, terdakwa berangkat dari China pada Rabu 10 Januari 2018 dan mampir di Malaysia terlebih dahulu. Di tempat itu, terdakwa bertemu dengan dengan Liang Liang (dalam pencarian, red) lalu terdakwa disuruh oleh Sa Gui untuk membawa dsb menyerahkan 1 (satu) tas koper warna biru dan putih kepada seseorang di Jakarta. Dari Malaysia, terdakwa berangkat ke Jakarta dengan menggunakan pesawat ke Bandung sehingga akhirnya terdakwa berhasil diamankan oleh Bea dan Cukai di bandara Husen Sastranegara Bandung berikut barang buktinya. 


Berdasarkan pemeriksaan Laboratories BBPOM (Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan) Bandung No. Lab. 033/TP/01/18 tanggal 26 Januari 2018, bahwa barang bukti itu kristal bening tidak berwarna tersebut mengandung Ketamin positif yaitu bahan baku obat yang diizinkan di Indonesia (Farmakope Indonesia Edisi V). Bahan baku untuk membuat Ketamin adalah 9-chloro benzonitri, cyclopentyl Bromide, cyclopentyl grignard, bromine dan methylamin. Bilamana bahan tersebut diolah maka akan jadi Ketamin. Sangat memungkinkan Ketamin tersebut dijadikan bahan baku untuk pembuatan Pil Ekstasi dan Ketamin dicampur dengan bahan-bahan lainnya, dimana efek yang ditimbulkan oleh Ketamin terhadap penggunanya yaitu penghilang rasa nyeri, halusinasi, mimpi yang nyata, sensasi melayang, kebingungan, kehilangan kemampuan untuk konsentrasi. Bahwa untuk membawa Ketamin harus.mempunyai keahlian dan kewenangan serta harus ada dokumen pendukung lainnya berupa dokumen Importasi yang sah dan dilengkapi COA (Certificate Of Analysis) dan tidak bisa dibawa individu dalam jumlah yang banyak. Ketamin sebagai obat hanya bisa diperoleh bila ada resep dokter. 



Sidang yang dipimpin oleh Tety Siti Rochmat Setiati, SH diundur dengan seminggu untuk memberi kesempatan kepada terdakwa dan atau Penasehat Hukumannya untuk melakukan pembelaan. Usai mendengar tuntutan tersebut, Ira M. Mambo, SH.,MH selaku Penasehat Hukum terdakwa mengatakan, selain tidak berkorelasi antara terdakwa dengan barang bukti, terdakwa juga tidak mengetahui bahwa isi dari koper atau yang disebut JPU itu Ketamin. Dalam hal ini, terdakwa hanya dititipi koper tersebut oleh Sa Gui yang baru dikenalnya di Kualalumpur. Perkara ini muncul berawal dari terdakwa yang dititipi 1 (satu) koper yang berisi serbuk Ketamin oleh temannya di Malaysia untuk diserahkan kepada seseorang di Jakarta. Padahal tidak ada korelasi antara terdakwa dengan barang yang dibawanya, kedatangan terdakwa ke Indonesia untuk berwisata. kata Ira saat diwawancarai indofakta.com(31/5/2018). (Y CHS).


 

Berita Terkait