Wed,17 October 2018


PENTAS SOLIDARITAS, UMBUL DONGA KANGGO NUSANTARA

Indofakta 2018-05-15 17:39:23 Daerah
PENTAS SOLIDARITAS, UMBUL DONGA KANGGO NUSANTARA

YOGYAKARTA -- Serangkaian teror bom Surabaya, Jawa Timur, sontak memunculkan gerakan solidaritas lintas kalangan masyarakat di seantero Indonesia. 

 

Semua mengutuk keras aksi biadab kelompok teroris, yang membunuh secara sengaja dan terencana terhadap nyawa-nyawa manusia tak berdosa. Bahkan, memperalat anak-anak kecil sebagai tumbal faham kekerasan yang dianut.

 

Kalangan seniman dan budayawan Yogyakarta pun terpanggil untuk mengekspresikan duka cita mendalam bagi puluhan korban bom Surabaya, Selasa (15/5/2018) sore.

 

Melalui acara spontan "Umbul Donga Kanggo Nusantara", pentas solidaritas seniman Yogyakarta melawan kekerasan berlangsung di panggung terbuka Taman Budaya Yogyakarta. 

 

Pada kesempatan itu, tampil sejumlah seniman antara lain group musik kawakan Sirkus Barock, Sri Krishna dkk, NOS Indonesia Band pimpinan Ucok Hutabarat, Icipili Mitirimin asuhan Pardiman Djoyonegoro, Sanggar Tari Kinanti Sekar Rahina, Whani Darmawan, Iman Budhi Santosa, Ayu Laksmi, orasi budaya Imam Aziz dan spontanitas seniman.

 

Hal menarik, acara ini hanya dipersiapkan satu hari sebelumnya. Dan, semua penampil rela tampil tanpa dibayar. Seluruh kebutuhan acara mulai dari tempat, sound system, dan dekorasi, dibantu berbagai kalangan yang peduli. "Semangat untuk bersolidaritas menjadi pemersatu," kata Widihasto Wasana Putra, koordinator acara.

 

Para seniman, menampilkan seni pertunjukkan yang dikhususkan sebagai ungkapan doa (umbul donga) untuk para korban-korban kekerasan akibat serangan teror di berbagai tempat di Indonesia.

 

Melalui acara "Umbul Donga Kanggo Nusantara" ini, mereka juga menyampaikan pernyataan terkait upaya penanggulangan terorisme.

 

Ada hal lima hal substantif, seperti disampaikan para seniman, yang harus dilakukan negara. 

 

Pertama, penyempurnaan perangkat perundang-undangan. Telah adanya kesepakatan di antara pimpinan parlemen dengan pemerintah untuk akselerasi penyelesaian RUU terorisme adalah hal baik. 

 

Kedua, urgensi peningkatan deteksi dini adanya peluang kemungkinan serangan terorisme. 

 

Ketiga, jerat hukuman maksimal kepada residivis terorisme dan pendukungnya.

 

Keempat, gerakan bersama seluruh kalangan untuk menisbikan sekecil apapun tumbuhnya bibit-bibit terorisme, termasuk filter kuat masuknya anasir terorisme dari luar serta menutup semua ruang penyebaran faham radikal dalam semua sektor dan jenjang kehidupan baik di keluarga, lingkungan, instutusi pendidikan, lembaga pemerintah maupun nonpemerintah dan sosial media.

 

Kelima, upaya berkelanjutan di semua lini untuk memperkuat tumbuhnya nilai-nilai idiologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan semangat Merah Putih di tengah masyarakat.(Affan)

Berita Terkait


 Terbaru