Muhammadiyah Mengecam Keras Peristiwa Bom di Surabaya dan Sidoarjo

 Mon,20 August 2018


Muhammadiyah Mengecam Keras Peristiwa Bom di Surabaya dan Sidoarjo

Indofakta 2018-05-14 16:49:10 Serba Serbi
Muhammadiyah Mengecam Keras Peristiwa Bom di Surabaya dan Sidoarjo

YOGYAKARTA -- Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengecam keras peristiwa bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, diiringi duka cita serta bersimpati kepada korban yang tak bersalah akibat perbuatan biadab tersebut.

 

"Teror bom di tiga gereja jangan memunculkan pandangan mewakili umat beragama yang berbeda," papar Dr H Haedar Nashir, MSi, Ketua Umum PP Muhammadiyah, di Kantor PP Muhammadiyah Jl Cik Di Tiro 23 Yogyakarta, Senin (14/5/2018). 

 

Didampingi Dr H Agung Danarto, MAg (sekretaris), Prof Dr H  Yunahar Ilyas, LC, MAg, dr Agus Taufiqurrahman, MKes, SpS dan Drs Oman Fathurrahman SW, MAg (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah), Haedar berharap agar peristiwa itu tidak mengganggu hubungan antarumat beragama yang selama ini telah berjalan baik dan harmoni.

 

"Tindakan teror, kekerasan dan anarki, lebih-lebih yang memakan korban jiwa dan menciptakan ketakutan kolektif atas nama apapun, dilakukan oleh siapapun dan bertujuan apapun merupakan perbuatan dhalim dan fasad fil-ardl atau pengrusakan di muka bumi yang tidak dibenarkan oleh agama, hukum dan moralitas publik," kata Haedar Nashir.

 

Kepada kepolisian dan pemerintah, Muhammadiyah berharap agar mengusut kasus tragis itu secara tuntas, objektif dan transparan. "Disertai langkah pemecahan ke depan yang semakin komprehensif antara pencegahan dan penindakan secara seksama," tandas Haedar Nashir yang menambahkan hal itu agar tidak berulang terjadi.

 

Kepada semua pihak, Muhammadiyah juga berharap untuk tetap tenang dan jernih serta tidak mengembangkan berbagai asumsi negatif yang memberi ruang pada saling curiga dan sentimen sosial yang bermuara pada terganggunya kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Seperti disampaikan Haedar Nashir, para tokoh dan elite bangsa hendaknya memberikan teladan kenegarawanan yang mengutamakan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan diri dan golongan. 

 

"Kedepankan sikap tulus dan penghidmatan tinggi dalam membimbing rakyat agar menjadi warga negara yang hidup rukun, damai, toleran, sabar, dan saling mencintai dalam persaudaraan dan kemajemukan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban utama," kata Haedar Nashir. (Affan)

Berita Terkait