Wed,17 October 2018


Lakukan Ujaran Kebencian, Suhardi Winata Dituntut Dua Tahun

Indofakta 2018-05-08 18:31:21 Hukum / Kriminal
Lakukan Ujaran Kebencian, Suhardi Winata Dituntut Dua Tahun

BANDUNG  - Suhardi Winata (44) dituntut selama 2 (dua) tahun dipotong masa tahanan yang telah dijalani dengan perintah agar terdakwa tetap ditahan. Terdakwa menurut Jaksa Penuntut Umum (JPU) terdakwa dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, ras dan antar golongan (SARA). 

 

Hal tersebut dikemukakan JPU Melur Kimaharandika, SH. MH dalam sidang dengan agenda tuntutan (7/5/2018). Menurutnya, terdakwa terbukti melanggar Pasal 45A ayat (2) UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas UU No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE. 

 

Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Dahmiwirda D, SH.,MH, JPU menyebutkan bahwa terdakwa dengan menggunakan akun facebook dengan username Suhardi Winata, ID profile : 100000697817733, URL : https://www.facebook.com/suhardi.winata telah memposting kata-kata/pernyataan di grup facebook "DIALOG ATEIS INDONESIA - SEKULER INTELEKTUAL (DAISI) dan facebook " DIALOG RESMI ISLAM VS KRISTEN yang mengandung informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan SARA khususnya agama Islam dan Kristen yang merupakan salah satu agama yang diakui di Indonesia. 

 

Atas tuntutan tersebut, terdakwa yang diwakili oleh Penasehat Hukumnya, Ira M. Mambo, SH.,MH menyatakan bahwa berdasarkan fakta di persidangan terdakwa bukan ahli agama, bukan sarjana agama, bukan pemuka agama sehingga segala perkataan ataupun kata-kata yang ditulis di  Media Sosial dalam perkara tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Terdakwa hanyalah seorang wiraswasta/pedagang sepatu dengan agama Budha.

 

Menurut Ira saat diwawancarai indofakta.com (7/5/2018), patut dipertanyakan/dipersalahkan orang yang membuat 2 grup tersebut yang sudah barang tentu bukanlah terdakwa. Terdakwa hanyalah salah satu anggota dari 100.000 lebih anggota lainnya. Justru perilaku/komentar terdakwa berakar dari judul grup dan komen-komen anggota grup tersebut yang memprovokasi yang menyebabkan terdakwa berkomentar. Pun demikian komentar terdakwa dituduh menyebarkan kebencian, hal yang sama terjadi pada terdakwa yang terprovokasi oleh kalimat-kalimat komen yang menyulut emosi terdakwa untuk berkomentar sehingga perkara bergulir. Bukan melulu harus terdakwa yang dipersalahkan. Namun seluruh pihak yang terkait yaitu pembuat grup, anggotanya dan media sosial itu yang memfasilitasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdakwa adalah korban provokasi dari grup di media sosial. Bahwa terdakwa menyesali atas bergulirnya perkara ini dan terdakwa sama sekali tidak memiliki niatan untuk menyebarkan kebencian dan perpecahan dari komen-komen. Terdakwa adalah WNI dan cinta Indonesia. Lengkap nya pembelaan tersebut akan disampaikan dalam sidang berikutnya. (Y CHS).

Berita Terkait


 Terbaru