Wed,18 July 2018


Indonesia Memerlukan Agama untuk Pencerahan

Indofakta 2018-05-06 18:13:38 Edukasi
 Indonesia Memerlukan Agama untuk Pencerahan

YOGYAKARTA -- Di antara keunggulan cirikhas dan kebanggaan Muhammadiyah adalah sekolah-sekolah kader berbasis sekolah Islam modern yang dirintis sejak awal, yakni Mu'allimaat dan Mu'allimiin.

 

Pendirian Mu'allimaat dan Mu'allimiin dulu, merupakan sebuah kebanggaan karena Muhammadiyah berhasil menepis pemikiran lama dan menciptakan hal baru, yakni menggabungkan Islam dengan ilmu pengetahuan.

 

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir, MSi, dalam acara wisuda kelas VI Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (6/5/2018).

 

Di depan Hj Shoimah Kastolani (PP Aisyiyah), Ketua BPH Mu'allimin dan  Mu'allimaat Muhammadiyah Agung Danarto dan Habib Chirzin, Haedar mengatakan, saat ini bangsa Indonesia memerlukan dua pilar penting dalam kehidupan. "Yakni nilai dasar agama dan nilai strategi ilmu pengetahuan," tandas Haedar Nashir.

 

Bangsa Indonesia, dikatakan Haedar Nashir,  memerlukan agama untuk pencerahan. "Maka, kader-kader Muhammadiyah jadilah sosok unggul yang tetap istiqamah, punya karakter ke-Islaman yang kuat dan religius untuk melahirkan kesalehan yang otentik, bukan kesalehan atributik semata," papar Haedar.

 

Pada kesempatan itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Haedar Nashir, MSi, menyampaikan pesan kepada siswi Mu'allimaat untuk menjadi kader-kader Muhammadiyah yang meng-Indonesia dan mengglobal. "Juga membawa kebajikan dan kemaslahatan untuk bangsa Indonesia," kata Haedar Nashir, yang bisa hadir dalam acara itu meski baru hadir dari Banjarmasin, karena cintanya pada Mu'allimaat.

 

Bagi Haedar, pelepasan ini jangan sekadar menjadi ritual saja, tapi harus jadi inspirasi semua siswi sekaligus juga guru dan orang tua serta Muhammadiyah dan Aisyiyah.

 

Saat ini ada 174 PTM (Perguruan Tinggi Muhamadiyah). "Tergantung Anda semua untuk kuliah mau survive atau tidak, jadi kader berkemajuan atau tidak, tinggal direbut peluang itu," tandas Haedar Nashir. 

 

Di sisi lain, Direktur Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta, Agustyani Ernawati, SPd, berpesan kepada siswi yang berasal dari 70 kota dan kabupaten dari 19 propinsi se-Indonesia untuk tetap istiqomah sebagai kader Muhammadiyah yang punya karakter Islam.

 

"Jadilah kader yang cerdas dan berilmu serta luas pandangan. Itulah ciri kader Muhammadiyah," papar Agustyani Ernawati, yang menambahkan 193 lulusan Mu'allimaat -- meliputi program IPA (107), program IPA (70) dan program keagamaan (16) -- dan sekolah kader Muhammadiyah harus menjadi orang-orang berkemajuan.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si, secara resmi melepas dan mengembalikan para kader Persyarikatan Muhammadiyah itu kepada orangtua masing-masing setelah digembleng selama 6 tahun di Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta untuk menjadi kader ulama, pemimpin dan pendidik di masa yang akan datang sebagai ujung tombak dakwah amar makruf nahi munkar.

 

Pimpinan Pusat Aisyiyah, yang diwakili Dra. Hj. Shoimah Kastolani -- yang juga alumni Madrasah Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta -- mengapresiasi siswi yang berhasil meraih prestasi di bidang akademik maupun non-akademik. "Semoga prestasi yang diraih selama di Mu'allimaat bisa diteruskan ketika menempuh pendidikan di perguruan tinggi," papar Shoimah Kastolani.

 

Setelah menempuh pendidikan selama 6 tahun, kader terbaik diraih Alfreda Fathiya yang berasal dari Kota Yogyakarta dan mendapat beasiswa dari Ketua Umum PP Muhammadiyah. 

 

Dan, dari 193 siswi sudah banyak yang telah diterima di prodi unggulan Perguruan Tinggi Negeri maupun swasta di DIY maupun luar DIY. Selain itu, masih ada siswi yang berproses mendaftar di beberapa perguruan tinggi di luar negeri: Mesir, Turki, China dan Brunei Darussalam. (Affan)

 

Berita Terkait