Mon,21 May 2018


Konjen RI Jeddah: Hubungan Birateral Indonesia-Arab Saudi Semakin Erat

Indofakta 2018-04-18 16:00:09 Edukasi
Konjen RI Jeddah: Hubungan Birateral Indonesia-Arab Saudi Semakin Erat

YOGYAKARTA -- Hubungan harmonis antara bangsa Indonesia dengan Arab Saudi sudah terjalin sejak lama. Terlebih, kedua negara itu memiliki kesamaan: mayoritas masyarakat muslim terbanyak di dunia.

 

"Karena itulah, hubungan bilateral antara kedua negara itu, diharapkan bisa semakin erat, khususnya dalam bidang pendidikan," kata Dr. Mohamad Hery Saripudin, MA selaku Konsul Jenderal Republik Indonesia di Jeddah, Kerajaan Arab Saudi, saat menyampaikan pidato Milad ke-37 UMY.

 

Rapat senat terbuka dengan agenda laporan tahunan Rektor dan pidato Milad ke-37 diselenggarakan di Ruang Sidang Gedung AR. Fachrudin B lantai 5, Kampus Terpadu UMY, Rabu (18/4/2018).

 

Hery menyampaikan, hubungan harmonis antara bangsa Indonesia dengan Arab Saudi yang sudah terjalin lama, merupakan bentuk konkret hubungan baik kedua negara tersebut. "Terlebih, setelah adanya kunjungan Raja Salman pada 2017 yang lalu dan menandatangani nota kesepahaman dalam berbagai bidang dengan Indonesia, salah satunya bidang pendidikan," kata Hery.

 

Untuk itu, dikatakan Hery, civitas akademika UMY perlu merespon aktif adanya kesepekatan tersebut. "Serta berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas masyarakat,” papar Hery.

 

Selain itu, menurut Hery, konsep Islam yang berkemajuan yang juga diusung Muhammadiyah dapat dijadikan salah satu acuan untuk bersinergi lebih luas dengan Kerajaan Arab Saudi. "Karena saat ini pemerintah Arab Saudi memang sedang menggalakkan ide Islam moderat," tandas Hery. 

 

Untuk mendukung gerakan internasionalisasi Muhammadiyah -- khususnya UMY -- Konsul Jenderal RI di Jeddah sangat terbuka memberikan kesempatan bagi mahasiswa UMY untuk bisa melaksanakan KKN di Jeddah.

 

Gerakan internasionalisasi ini, juga merupakam langkah nyata sebagai bagian dari ijtihad Muhammadiyah. Dan, warga Muhammadiyah harus melihat momentum yang sangat penting ini dan menunjukkan bahwa umat Islam tidak hanya toleran dan moderat.

 

"Akan tetapi harus menjadi umat yang kekinian dan berorientasi dalam memaksimalkan potensi ekonomi lokal agar bisa memberikan manfaat secara meluas,” ujar Hery.

 

Lebih lanjut Mohamad Hery Saripudi  menambahkan, setiap tahunnya masyarakat Indonesia berbondong-bodong untuk melaksanakan ibadah haji maupun umrah. "Dan menunjukan peningkatan yang signifikan," tandas Hery.

 

Dengan keberadaan masyarakat Indonesia di Arab Saudi, tentunya Konsul Jenderal RI di Jeddah harus menjamin masyarakat Indonesia dilindungi pemerintahnya, baik terhadap tenaga kerja maupun para pelajar.

 

Meningkatnya masyarakat dunia yang berkunjung ke Arab Saudi sangat membuka peluang untuk para pebisnis. Untuk itu, keluarga besar Muhammadiyah diharapkan mampu melihat peluang untuk dapat berkiprah dalam kerjasama pada bidang ekonomi dan perdagangan.

 

Hal senada disampaikan Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, MP, Rektor UMY, pada prosesnya UMY sudah mampu melakukan akselarasi dalam berbagai aspek, baik dalam akademik, penelitian dan pengabdian masyarakat.

 

“Menjadi kampus yang memiliki reputasi internasional sudah menjadi fokus kami saat ini. Pada bidang penelitian, kami mengembangkan sains, teknologi, industri, lingkungan, sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, dan kemanusiaan," jata Gunawan Budiyanto.

 

Seperti pada tahun 2017, sebanyak 37 orang peneliti dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Inggris, Malaysia, dan Taiwan  melakukan kerja sama penelitian dengan dosen UMY.

 

Pada bidang pengabdian, UMY terus gencar menyasar daerah-daerah yang masyarakatnya prasejahtera maupun kurang akses pendidikan.

 

Pada kegiatan pengabdian masyarakat meliputi tiga jenis: KKN tematik-reguler, tematik-khusus dan KKN internasional. Salah satu KKN tematik, menerjunkan mahasiswa di wilayah 3T (terpencil, terluar dan terdalam).

 

Selain itu, dikatakan Gunawan, UMY juga menyelenggarakan KKN internasional  dan telah diikuti oleh mahasiswa dari International Singapore Politechnic (ISP), Kanazawa Institute of Technology (Jepang) dan Vietnam National University. Program ini dilaksanakan 1-3 bulan untuk mengasah mahasiswa agar dapat lebih berempati terhadap masyarakat.

 

"Maka dari itu, kami akan terus mengembangkan pendidikan yang kompetitif dan eksis di skala nasional maupun Internasional demi terwujudnya World Class University,” pungkas Gunawan. (Affan)

Berita Terkait