Thu,26 April 2018


Kesiapsiagaan Bencana PGSD FKIP UAD Yogyakarta

Indofakta 2018-04-07 12:04:34 Edukasi
Kesiapsiagaan Bencana PGSD FKIP UAD Yogyakarta

YOGYAKARTA -- Dalam rangka menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) tahun 2018 dengan tema siaga bencana dimulai dari diri kita, keluarga dan komunitas, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta bekerjasama dengan MDMC PP Muhammadiyah adakan diskusi ilmiah kesiapsiagaan bencana di Kampus 5 UAD, Jl Ki Ageng Pemanahan, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta, Sabtu (7/4/2018).

 

Kegiatan pembelajaran IPS Prodi PGSD ini, menyoal peran calon pendidik dalam mewujudkan sekolah tangguh bencana itu, menghadirkan pembicara Budi Santoso dari MDMC PP Muhammadiyah dengan dipandu Dholina Inang Pambudi, MPd, dosen PGSD UAD dan pemerhati masalah kebencanaan.

 

Dalam pengantarnya, Dholina Inang Pambudi, menjelaskan, Indonesia merupakan kepulauan dengan potensi bencana alam sangat tinggi. "Khususnya untuk bencana alam, gempa bumi, letusan gunung berapi dan tsunami," papar Dholina, yang menambahkan, Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kerak bumi aktif.

 

Pada kesempatan itu, Budi Santoso, Ketua Divisi Pengurangan Risiko Bencana MDMC PP Muhammadiyah, sampaikan peta indeks risiko bencana Indonesia dan bagaimana menyiapkan calon pendidik untuk siap siaga bencana karena sekolah di Indonesia berisiko terhadap bencana. 

 

Menurut Budi, bencana adalah peristiwa atau kejadian yang disebabkan oleh faktor alam, yang menimbulkan kerusakan lingkungan, hilangnya nyawa dan dampak psikologis. 

 

"Bencana sangat berdampak pada ancaman, kerentanan, kapasitas dan kemampuan," tandas Budi, yang menambahkan paradigma terkait dengan penanggulangan bencana saat ini telah berubah. 

 

Bila sebelumnya dikenal dengan respon bencana, saat ini telah terjadi perubahan melalui konsep pengurangan risiko bencana. 

 

Sebagaimana disampaikan Budi Santoso, penting adanya penguatan kapasitas di ranah pendidikan terkait penanggulangan bencana. 

 

"Ketika bencana terjadi pendidikan merupakan sektor penting yang perlu diselamatkan,” kata Budi Santoso, yang mengungkapkan bencana dan gempa itu merupakan hal yang berbeda. 

 

“Waktu terjadinya gempa namun tidak ada masyarakat yang terluka maupun fasilitas yang rusak, maka itu bukan sebuah bencana," kata Budi, yang menambahkan bencana dapat dicegah jika kita tangguh.

 

Kembali ditambahkan oleh Budi, sepatutnya kita harus memahami fenomena alam dan sosial untuk mengurangi risiko terjadinya bencana.

 

Untuk itu, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah selalu siap dalam penanggulangan bencana. "Dan kesiapan dalam bencana akan membuat bencana itu tidak terjadi," tandas Budi.

 

Lebih lanjut Budi mengatakan, bencana itu bukan sekadar gunung meletus atau yang lain. "Tetapi bencana itu ketika terjadi dampak kepada manusia, apakah itu jiwa, harta benda atau korban psikologi sehingga kalau manusianya itu siap, maka bencana tidak akan terjadi meskipun gunung meletus, karena kemudian kita sudah mengerti apa yang harus kita lakukan," terang Budi.

 

Kesiapan dalam bencana akan membuat bencana itu tidak terjadi. Dan dengan memahami kejadian secara benar, maka bencana bisa dihindari. "Dengan memahami terjadinya bencana, maka korban akan dapat diminimalisir bahkan dihilangkan," imbuh Budi.

 

Oleh karena itu, masih menurut Budi, masyarakat harus belajar untuk kemudian memahamkan, mensosialisasikan tentang kejadian alam sehingga tidak harus menjadi bencana dengan melatih semua warga masyarakat jika terjadi bencana apa yang harus dilakukan. 

 

"Kita ingin agar HKB menjadi bagian dari aktivitas masyarakat dan kemudian menjadi bagian dari peringatan kita," tandas Budi.

 

Tujuan kegiatan ini untuk mengajak calon guru SD melakukan latihan kesiapsiagaan bencana. Adanya HKB, calon guru diharapkan dapat membudayakan latihan secara terpadu, terencana, dan berkesinambungan.

 

Selain itu, guru dapat meningkatkan kesadaran, kewaspadaan serta kesiapsiagaan masyarakat dan di sekolah menuju Indonesia tanggap bencana. (Affan)

Berita Terkait