Fri,19 October 2018


Karaton Yogyakarta dan Puro Pakualaman Pamerkan Koleksi Batik

Indofakta 2018-02-22 20:13:30 Serba Serbi
Karaton Yogyakarta dan Puro Pakualaman Pamerkan Koleksi Batik

YOGYAKARTA -- Pemerintah Kota Yogyakarta bersama Karaton Yogyakarta dan Puro Pakualaman akan menggelar pameran batik dengan tema "cerita dibalik goresan canting".

 

Kegiatan yang akan berlangsung pada 26 Februari 2018 sampai 4 Maret 2018 di Dome Area, Gedung Oval Taman Pintar Yogyakarta, dalam rangka memperingati Hadeging Nagati Ngayogyakarta Hadiningrat ke-271.

 

Dalam pameran yang akan dibuka Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti, akan menampilkan 14 koleksi batik Karaton Yogyakarta fan 12 koleksi batik Puro Pakualaman. "Tujuannya untuk mengenalkan kepada masyarakat tentang filosofi, makna dan cerita di balik pembuatan batik," kata Afia Rosdiana, Kepala Bidang Taman Pintar Yogyakarta, di Balaikota Timoho, Kamis (22/2/2018).

 

Antara batik Karaton Yogyakarta dan Puro Pakualaman, memiliki corak tersendiri yang khas.

 

Menurut Gusti Kanjeng Ratu Bendara -- usai menemui Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti bersama GKBRAA Paku Alam -- batik dari Karaton Yogyakarta yang akan dipamerkan adalah "ceplok ratu ratih", yang mempunyai filosofi dalam cerita pewayangan Dewi Ratih -- istri Bathara Kamajaya -- disimbolkan sebagai seorang dewi yang cantik jelita lambang keabadian cinta.

 

"Kekaguman kepada sang dewi mengilhami terciptanya motif ceplok ratu ratih dengan harapan wanita yang mengenakan batik itu akan menjadi seorang yang setia dan memelihara keabadian cinta," papar GKR Bendara.

 

Pada kesempatan itu, Karaton Yogyakarta juga akan menampilkan batik motif "dodot" sepanjang 10 meter yang digunajan GKR Bendara pada saat royal wedding.

 

Sedangkan dari Puro Pakualaman, akan menampilkan batik koleksi Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paki Alam. "Yang saya tuangkan dari naskah-naskah kuno dari Puro Pakualaman," kata GKBRAA Paku Alam.

 

Ditambahkan Afia Rosdiana, pada 3-4 Maret 2018 di area pameran akan ditampilkan cara membuat batik dan cara melukis pola batik pada kain mori oleh pembatik tulis dari Karaton Yogyakarta dan Puro Pakualaman. "Para pembatik itu akan menggunakan malam dan canting," kata Afia Rosdiana.

 

Pameran itu merupakan upaya Taman Pintar Yogyakarta dalam melestarikan budaya dan tradisi masyarakat Yogyakarta, yang memiliki nilai filosofi yang tinggi.

 

"Di samping juga untuk menunjukkan bahwa budaya atau tradisi dan teknologi pada hakikatnya dapat berjalan beriringan dan saling melengkapi," papar Yunianto DS, Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta.

 

Dan, kegiatan itu akan menyasar segmen masyarakat umum. Termasuk di dalamnya kalangan pelajar. Bermanfaat juga untuk menanamkan kecintaan dan kebanggaan memakai batik serta menumbuhkan semangat untuk melestarikannya.

 

"Sekaligus lebih mengukuhkan Yogyakarta sebagai kota batik dunia dan batik sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia," pungkas Yunianto Dwi Sutono. (Affan)

Berita Terkait


 Terbaru