Wed,17 October 2018


Disbud Sleman Lestarikan Nilai Budaya Melalui Gelar Macapatan

Indofakta 2018-01-27 19:55:57 Daerah
Disbud Sleman Lestarikan Nilai Budaya Melalui Gelar Macapatan

SLEMAN -- Setiap malam Rabu Wage, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman menggelar lelangen macapat dan sarasehan di pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Acara itu diselenggarakan bersama Paguyuban Seni Macapat “Sekar Manunggal Sleman Sembada”. 

Gelar macapat perdana untuk tahun 2018 telah dilaksanakan Selasa, 23 Januari 2018 lalu, yang melibatkan segenap pelaku seni macapat se-Kabupaten Sleman dan dihadiri Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, M.Si dan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman HY Aji Wulantara, SH, M.Hum.

Dalam kesempatan itu, ditambahkan Wasita, SS, MAP, Kabid Dokumentasi, Sarana dan Prasarana Kebudayaan Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, juga dilaksanakan sarasehan budaya dengan topik “ngelmu katon” oleh budayawan Purwadmadi.

Pada kesempatan itu, Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, M.Si, mengapresiasi Paguyuban Seni Macapat “Sekar Manunggal Sleman Sembada” yang tetap bersemangat melestarikan dan mengembangkan seni macapat. 

"Hal ini merupakan bukti dan langkah nyata warga masyarakat dalam melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa yang adiluhung," kata Sro Purnomo.

Hal ini pula, ditambahkan Sri Purnomo, tentunya akan memberikan kontribusi positif dalam membangun masyarakat Sleman yang berbudaya. "Membangun masyarakat Sleman yang berbudaya pada hakikatnya merupakan upaya pembangunan kualitas sumber daya manusia," papar Sri Purnomo.

Mengingat, dalam seni macapat banyak terkandung nilai dan pesan moral yang positif dalam rangka membangun peradaban manusia sebagai insan yang bermartabat.

Sementara itu, Purwadmadi yang menguraikan falsafah “ngelmu katon”, mengatakan, falsafah ini sangat sederhana. "Namun memiliki makna yang dalam dan penting, yang banyak berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat," kata Purwadmadi. 

Istilah ngelmu katon, dalam hal ini bukan merupakan antonim dari ilmu yang bersifat batin. Akan tetapi diartikan sebagai kehadiran secara fisik dalam hidup bertetangga, bersaudara dan dalam pergaulan bermasyarakat.

Sebagai makhluk sosial, manusia pada hakikatnya memiliki sifat saling membutuhkan dan tidak bisa hidup sendiri tanpa kehadiran orang lain. "Namun seiring dengan kemajuan dan perkembangan peradaban seringkali ngelmu katon itu dianggap sepele atau bahkan justru dilalaikan meskipun sebenarnya tidak sulit untuk dilaksanakan," papar Purwadmadi.

Istilah Jawa rasa rumangsa, angon rasa, momong rasa, trapsila subasita, akan memiliki makna yang penting dan hakiki dalam pergaulan bermasyarakat. "Oleh karenanya ngelmu katon dalam pelaksanaannya akan lebih ringan apabila dilandasi dengan jiwa dan hati yang ikhlas serta lila legawa atau tulus secara lahir maupun batin," kata Purwadmadi. 

Keberadaan dan kehadiran seseorang dalam berbagai kegiatan dan acara yang dilaksanakan di lingkungan masyarakat, semisal hajatan pernikahan, pelayatan, ronda atau siskamling, kerja bakti dan lain sebagainya akan menimbulkan penilaian yang positif.

"Dan menghilangkan prasangka negatif, yang pada gilirannya akan mendukung terciptanya dan berkembangnya tatanan masyarakat yang humanis dan berbudaya tinggi," pungkas Purwadmadi. (Affan)

Berita Terkait


 Terbaru