Wed,21 February 2018


Pertama Kali di Dunia, Festival Minum Jamu Digelar di Yogyakarta

Indofakta 2018-01-27 17:48:26 Serba Serbi
Pertama Kali di Dunia, Festival Minum Jamu Digelar di Yogyakarta

YOGYAKARTA -- Siang ini, Sabtu (27/1/2018), berlangsung koordinasi pengurus Gabungan Pengusaha Jamu DIY di warung jamu legendaris di Yogyakarta: Jamu Ginggang. 

 

Dari koordinasi itu dihasilkan kesepakatan: bulan depan, tepatnya Sabtu, 17 Februari 2018, di Plaza Pasar Ngasem Yogyakarta akan digelar festival minum jamu. Kegiatan itu dalam rangka turut mangayubagyo hadeging nagari Ngayogyakarta Hadiningrat ke-271.

 

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DIY dan Gabungan Pengusaha Jamu DIY akan berkolaborasi menggelar event yang baru pertama kali digelar di dunia, yaitu berupa festival minum jamu.

 

Nantinya, panitia akan menyiapkan 15 jenis minuman jamu seperti: beras kencur, kunir asem, paitan, secang, serbat, temulawak, sehat lelaki, sehat wanita, telat bulan, uyub-uyub, bir plethok, pegel linu, semelak, watukan dan sebagainya. "Pengunjung dan masyarakat yang hadir bebas minum jamu," terang Widihasto Wasana Putra, panitia, Sabtu (27/1/2018).

 

Menurut Widihasto, acara akan dimeriahkan demo pembuatan jamu, konsultasi kesehatan, bazar, pentas seni, donor darah, game, lomba ala bakul jamu gendong, lomba foto, bagi-bagi doorprice dan sebagainya.

 

Untuk memeriahkan acara itu, disampaikan Widihasto, panitia membuka kesempatan bagi kelompok kesenian masyarakat yang akan tampil di acara ini. 

 

Disampaikan Widihasto, jamu adalah produk minuman kesehatan yang dibuat dari aneka bahan-bahan tanaman lokal seperti: jahe, kencur, temulawak, secang, adas pula waras, alang-alang, pace dan sebagainya. 

 

Jamu penting untuk diapresiasi. "Karena ia merupakan produk minuman olahan tradisional khas nusantara," terang Widihasto, yang menambahkan jamu menjadi bagian dari kekayaan budaya nusantara dan konten yang turut memperkaya industri pariwisata serta menggerakkan perekonomian rakyat.

 

Gabungan Pengusaha Jamu DIY yang beranggotakan 30 pengusaha jamu, rata-rata sudah membuka usaha lebih dari 20 tahun. Dan, sedikit banyak ikut menyerap tenaga kerja. 

 

"Jumlah pengusaha jamu jika ditambah dengan para penjual jamu gendong yang keliling di kampung-kampung dan pasar-pasar tradisional pasti jauh lebih banyak," papar Widihasto. (Affan)

 

Berita Terkait