Wed,21 February 2018


Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dalam Tanwir I Aisyiyah

Indofakta 2018-01-16 14:30:31 Serba Serbi
Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dalam Tanwir I Aisyiyah

YOGYAKARTA -- Indonesia masih menghadapi permasalahan yang krusial, yaitu masalah perekonomian seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, penguasaan kekayaan negara oleh sekelompok kecil masyarakat dan sebagainya.

Sementara, yang paling merasakan dampak dari kemiskinan adalah kelompok perempuan dan anak-anak. Kebijakan perekonomian -- baik di tataran global maupun negara -- belum berpihak kepada kelompok miskin. Dan, justru semakin memarginalkan kelompok miskin, yaitu semakin tingginya gap (kesenjangan) antara kelompok kaya dan kelompok miskin.

Kondisi itu menjadi keprihatinan tersendiri bagi Aisyiyah, organisasi perempuan yang hadir jauh sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan.

Ketua Umum PP Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, yang didampingi Hj Shoimah Kastolani, Hj Latifah Iskandar, Tri Hastuti Nur Rochimah dan Hj Susilaningsih Kuntowijoyo, menyatakan, kemakmuran bangsa dan kesejahteraan rakyat merupakan bagian penting dari cita-cita nasional yang menjadi komitmen awal para pendiri bangsa.

"Kemakmuran bangsa tidak akan terwujud jika kesenjangan sosial, kemiskinan, penguasaan kekayaan negara dan segala bentuk ketidakadilan masih menjadi kenyataan dalam kehidupan kebangsaan di negeri ini," kata Noordjannah Djohantini.

Berangkat dari situasi bangsa itu, ungkap Noordjannah, Aisyiyah merasa penting untuk menjadikan tema gerakan pemberdayaan ekonomi perempuan, pilar kemakmuran bangsa, sebagai tema Tanwir I Aisyiyah yang akan digelar pada 19-21 Januari 2018 di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur.

Pada Tanwir I Aisyiyah ini, dijadwalkan sejumlah tokoh nasional akan hadir, seperti Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dan beberapa menteri Kabinet Kerja: Menteri BUMN, Menteri Koperasi dan UMKM, Mendikbud, Menteri Agama.

Dalam kesempatan itu, Aisyiyah akan melakukan MoU dengan Kementerian Agama RI terkait penguatan keagamaan tengahan dan keluarga sakinah. Juga dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait literasi keuangan bagi perempuan.

Noordjannah menjelaskan, tanwir merupakan forum permusyawaratan tertinggi di bawah muktamar akan diikuti 400 orang peserta pimpinan Aisyiyah se-Indonesia.

Momentum tanwir akan menjadi momentum yang strategis untuk melakukan evaluasi dan merumuskan strategi implementasi dakwah Aisyiyah sebagaimana pokok-pokok pikiran Aisyiyah abad kedua. "Sekaligus menjawab tantangan global dan nasional terkait dengan problem-problem perekonomian yang dihadapi bangsa, termasuk dihadapi oleh perempuan," kata Noordjannah.

Misi dakwah pemberdayaan ekonomi perempuan telah menjadi agenda penting dan utama Aisyiyah mengawali abad kedua. Agenda strategis dan praksis dakwah Aisyiyah untuk mengurangi kemiskinan dijalankan melalui program-program pemberdayaan masyarakat dan melakukan advokasi regulasi maupun kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat.

Dalam pandangan Aisyiyah, papar Noordjannah, pemberdayaan ekonomi perempuan dapat menjadi strategi penting dalam upaya pengurangan kemiskinan, yang menjadi agenda pembangunan di Indonesia maupun negara-negara di dunia. 

"Hal tersebut tampak pula dalam tujuan pertama sustainable development goals yang menyoal tentang pengakhiran kemiskinan," tandas Noordjannah yang menambahkan perempuan merupakan kekuatsn potensial dalam menggerakkan perekonomian bangsa.

Sebelum tanwir digelar seminar dengan tema "Keluarga Berkemajuan Pijakan Bangsa Berkeadaban" pada 18 Januari 2018. Selain itu ada pawai taaruf, jalan sehat keluarga, konseling kesehatan dan psikologi di car free day, sarasehan koperasi Aisyiyah se-Jawa dan Bali. (Affan)

Berita Terkait