Sat,21 April 2018


Sikap Muhammadiyah Terkait Bencana Lingkungan

Indofakta 2017-12-14 15:21:17 Daerah
 Sikap Muhammadiyah Terkait Bencana Lingkungan

YOGYAKARTA -- Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyahbekerjasama dengan International Program of Governmental Studies (IGOV) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan diskusi publik dengan tema“Refleksi Akhir Tahun 2017" sekaligus pernyataan sikap kondisi lingkungan hidup Indonesia, Kamis (14/12), di Lantai 5 Gedung AR Fachrudin A  UMY.

Diskusi tentang bencana dan memberikan solusi dalam upaya penyelesaian permasalahan lingkungan yang  dihadapi masyarakat menghadirkan Prof. Dr. Muhjidin Mawardi (Ketua MLH PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Bakti Setiawan (MLH PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Sunjoto (Dosen Fakultas Teknik UGM), dan Dr Tasdiyanto Rohadi (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI).

Prof. Dr. Muhjidin Mawardi selaku Ketua MLH PP Muhammadiyah, menyampaikan, saat ini bencana harus menjadi perhatian khusus, baik dari pihak pemerintah maupun elemen masyarakat. "Mengingat akhir-akhir ini bencana alam di Indonesia sudah terjadi di beberapa wilayah dan menelan banyak korban jiwa serta banyak merusak infrastruktur," kata Muhjidin.

Saat ini, aspek lingkungan harus sudah menjadi perhatian dari pemerintah maupun masyarakat. "Karena, jika kita adil terhadap lingkungan, akan meminimalisir terjadinya bencana," tandas Muhjidin yang menambahkan tidak hanya  perbuatan seseorang yang bisa merusak alam, akan tetapi perbuatan sekolompok orang juga akan mengakibatkan terjadinya kerusakan alam.

Muhjidin menjelaskan, semua pihak harus terlibat dalam membantu pemerintah. "Salah satunya dengan pengambilan sikap dan pernyataan dari Muhammadiyah terkait kondisi lingkungan saat ini," terang Muhjidin.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya dalam memberikan solusi-solusi sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemerintah.

Muhammadiyah menyadari, bencana lingkungan yang terjadi di tanah air seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, degradasi lahan, hilangnya keragaman hayati, polusi udara dan air serta bencana-bencana lainnya adalah akibat dari perilaku dan perbuatan manusia.

Oleh karena itu, penyelesaian permasalahan dan bencana lingkungan yang telah terjadi di tanah air harus dimulai dari melakukan perubahan fundamental cara pandang masyarakat terhadap alam lingkungannya.

Dibutuhkan revolusi moral agar terjadi perubahan sikap, perilaku dan gaya hidup (akhlak) masyarakat.

Muhammadiyah sejak awal menyadari, penyelamatan dan perlindungan lingkungan merupakan kewajiban sekaligus amanah yang harus diemban dalam rangka membangun masyarakat menuju masyarakat sejahtera yang diridhoi Allah.

Gerakan penyadaran dan perubahan perilaku masyarakat ini, dikatakan Muhjidin, bisa dilakukan melalui dakwah dan pendidikan lingkungan kepada jutaan siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah.

Adanya beberapa penyebab dan akar masalah bencana secara umum adalah rendahnya moral para pemangku kepentingan dalam pengalolaan hutan serta tata kelola hutan yang tidak bisa dilaksanakan secara efektif di lapangan.

Salah satu bencana lingkungan yang juga mengancam kehidupan bangsa adalah terjadinyakrisis air yang berupa banjir dan kekeringan, yang merupakan akibat langsung dari deforestasi dan degradasi lahan dan dipicu oleh perubahan iklim.

"Krisis air yang telah terjadi akhir-akhir ini sudah sampai pada tahap yang serius dan darurat," kata Muhjidin yang berharap pemerintah dan seluruh jajarannya harus berani menyatakan bahwa krisis air yang terjadi di Indonesia saat ini merupakan permasalahan yang serius dan telah berada dalam kondisi darurat.

"Sehingga memerlukan tindakan penyelamatan darurat pula,” tutupnya. (Affan)

 

Berita Terkait