Thu,14 December 2017


Pengadilan Militer Medan, Prada Kiren akui aniaya Jurnalis

Indofakta 2017-11-28 22:22:52 Hukum / Kriminal
Pengadilan Militer Medan, Prada Kiren akui aniaya Jurnalis

MEDAN-‎Prajurit TNI AU Lanud Soewondo, Prada Kiren Singh yang melakukan penganiayaan terhadap jurnalis Array A Argus mengakui perbuatannya dalam sidang lanjutan di Pengadilan Militer I-02 Medan.

Kiren yang didampingi penasehat hukumnya mengaku ada menendang Array hingga terjatuh. Ia mengatakan, tindakan itu dilakukannya karena emosi.

Menurut Kiren, setelah dirinya menganiaya Array bersama Pratu Rommel Sihombing, ia pun pergi meninggalkan lokasi yang berada tak jauh dari persimpangan Jalan Teratai, Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia pada 15 Agustus 2016 silam.

“Siap majelis, memang saya ada menendang saudara saksi (Array). Saya menendang saksi karena emosi,” kata Kiren di hadapan Ketua Majelis Hakim, Letkol Chairul, Selasa (28/11).

Mendengar itu, hakim anggota Letkol Lunggun M Hutabarat sempat mencecar terdakwa. Lunggun mengatakan, tidak seharusnya Kiren melakukan penganiayaan. Sebab, institusi TNI tidak pernah mengajarkan prajurit bertindak arogan. Jikapun keberadaan jurnalis di lokasi sengketa lahan tidak tepat, seharusnya TNI mengamankan saja tanpa melakukan penganiayaan.

“Jangan mentang-mentang kamu TNI, kamu arogan! Apa rupanya yang kamu pelajari selama pendidikan? Kan tidak ada diajarkan menganiaya masyarakat,” tegas Lunggun.

Ia mengatakan, gara-gara ulah Kiren, institusi TNI tercoreng. Tindakan kekerasan yang dilakukan Kiren dan Rommel tidak patut dicontoh oleh anggota TNI lainnya. Seharusnya, kata Lunggun, tindak kekerasan ini bisa dihindari.‎

“Apa ada atasan mu yang memerintah seperti itu? Kenapa kamu lakukan,” tegas Lunggun.

Mendengar hal itu, Kiren terdiam. Ia beberapa kali menundukkan kepalanya dalam. Dalam berkas acara pemeriksaan (BAP) saksi korban, Kiren juga disebut memukul rahang kanan Array.

Ditanya mengenai hal ini, Kiren berdalih tidak melakukannya. Ketika ditanya hakim siapa lagi teman-temannya yang terlibat, Kiren geleng kepala. Ia melindungi teman-temannya yang ikut serta memukul, menendang, bahkan menginjak-injak Array.

“Saya tidak lihat (TNI AU) yang lainnya. Setelah saya menendang saksi, saya pergi karena disuruh Provost,” katanya.

Terpisah, Array yang dimintai keterangannya oleh hakim bersikukuh menyebut Kiren sempat memukul rahang kanannya. Sehingga, karena tindakan Kiren, anggota TNI AU lainnya terpancing melakukan penganiayaan. Menurut Array, akibat penganiayaan ini, tubuhnya lebam-lebam.

“Terdakwa ini yang lebih dulu memukul saya. Saya juga tidak tahu apa alasan terdakwa memukul saya. Padahal saat itu, saya sudah menunjukkan kartu pers saat peliputan,” ungkap Array. ‎

Sebagaimana diketahui, kasus ini berawal saat Array dan temannya Teddy Akbari melakukan peliputan sengketa lahan di Kelurahan Sari Rejo, Kecamatan Medan Polonia pada 15 Agustus 2016 silam.

Saat itu, korban dianiaya beramai-ramai oleh anggota Lanud Soewondo dan Paskhas. Sebelum melakukan penganiayaan, puluhan personel TNI AU sempat merusak rumah warga.(Jos)
 

Berita Terkait