Thu,14 December 2017


Ribuan Bregada Rakyat Penuh Alun-alun Wates

Indofakta 2017-11-27 06:38:23 Serba Serbi
Ribuan Bregada Rakyat Penuh Alun-alun Wates

WATES -- Hari Minggu, 26 November 2017, menjadi momen spesial bagi warga Kulonprogo karena sebanyak 2.000 orang personel bregada rakyat se-Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul mengikuti "Festival Bregada Rakyat DIY ke-5 Tahun 2017".

Kegiatan yang dipusatkan di Alun-alun Wates, Kulonprogo, diawali dengan apel akbar pada pukul 13.00 WIB yang diisi dengan pembacaan ikrar kesetiaan terhadap Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman sebagai manifestasi keistimewaan DIY. 

"Ikrar kesetiaan kepada Pancasila dan NKRI penting dilakukan sebagai salah satu upaya merawat jiwa nasionalisme serta menangkal munculnya sikap intoleransi dan radikalisme di kalangan komponen warga masyarakat, khususnya penggiat seni keprajuritan rakyat," kata Widihasto Wasana Putra selaku ketua panitia. 

Menurut Widihasto, ikrar kesetiaan kepada Kesultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman di bawah kepemimpinan dwi tunggal Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Pakualam X memiliki arti penting menjaga kemanunggalan atau nyawiji golong gilig saiyeg seko kapti antara rakyat (kawula)  dengan pemimpin (raja).

Seusai apel, seluruh kelompok bregada rakyat setelah melakukan kirab sepanjang 1,8 kilometer mengelilingi Alun-alun Wates, berakhir di gedung DPRD Kabupaten Kulonprogo. 

Selain Dinas Kebudayaan DIY, seluruh jajaran Forkominda Kabupaten Kulonprogo turut menyaksikan acara itu, persis di depan rumah dinas Bupati Kulonprogo.

Festival Bregada Rakyat DIY yang diselenggarakan Pokja Penguatan Lembaga Pengelola dan Pelestari Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY selalu menjadi momen yang ditunggu-tunggu, baik oleh para pelaku dan penggiat seni keprajuritan rakyat maupun masyarakat umum, yang ingin menyaksikan secara dekat penampilan bregada rakyat. 

"Atraksi bregada rakyat yang terekspresikan dari cara berjalan, musik dan kostum yang khas menjadi daya tarik masyarakat," papar Widihasto. 

Fenomena maraknya kemunculan bregada rakyat, menurut Widihasto, patut disyukuri. "Sebab, keberadaannya turut mewarnai dinamika kebudayaan di DIY," tandas Widihasto, yang menambahkan seni keprajuritan yang kini tumbuh di kampung-kampung menjadi salah satu penanda keistimewaan warga masyarakat DIY. 

Berdasarkan catatan, keberadaan bregada rakyat hanya terdapat di DIY. Di daerah lain pun, yang juga memiliki entitas kerajaan, tidak ditemui keberadaan bregada rakyat. 

Dan, kehadirannya sedikit banyak juga ikut menggerakkan perekonomian pengrajin busana adat, seperti blangkon, topi, surjan lurik, kain batik, keris, tombak, panah dan asesoris lainnya. "Hingga produsen alat musik seperti tambur,  terompet, suling dan sebagainya," ujar Widihasto.

Bregada rakyat merupakan bregada imitasi atau tiruan dari bregada Kraton maupun Puro Pakualaman. Pihak Kraton seperti dikutip dari pernyataan Penghageng Panitro Puro Kasultanan Ngayogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono, mendukung inisiatif masyarakat membentuk bregada rakyat. "Namun, seyogyanya untuk desain kostum atau seragam tidak diperkenankan sama persis," jelas GKR Condrokirono.

Logikanya adalah sama dengan kedudukan seragam TNI dan Polri, yang mana masyarakat yang membuat seragam pengamanan atau satuan tugas, tidak boleh menyamainya secara persis.  

Adqpun 30 kelompok bregada rakyat yang tampil dalam Festival Bregada Rakyat DIY ke-5 Tahun 2017 adalah bregada Asem Gede, Satria Menoreh, Reksa Budaya, Manggala Sari, Arum Sebada, Jati Manggala, Taruna Manggala. 

Selain itu ada Suling Gading, Lestari Budaya, Tanjung Anom, Gulurejo, Anggara Panuntun, Pagerharjo, Kendil Wesi, Sapta Raga, Sogan, Kalirejo, Jatimulya, Brosot, Biru, Niti Manggala, Candrasasi,  Dandang Rekso, Agung Guno Joyo dan Winata Manggala. (Affan)

Berita Terkait