Thu,14 December 2017


Memahami Akulturasi Budaya di Indonesia

Indofakta 2017-11-25 16:46:45 Nasional
Memahami Akulturasi Budaya di Indonesia

YOGYAKARTA -- Akulturasi budaya di Indonesia tentunya sangat berbeda dengan akulturasi budaya Barat. Hal inilah yang harus dipahami oleh generasi muda masa kini.

"Tujuannya agar semua aspek kehidupan yang dilakukan tidak bertolak belakang dengan budaya yang telah kita jaga sama-sama selama ini," kata Sri Sultan HB X di depan peserta pelatihan kader penggerak Pancasila untuk mahasiswa di Benteng Vredeburg Yogyakarta, Sabtu (25/11).

Acara bertajuk “Pancasila dalam Perbuatan” ini diadakan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang dilaksanakan 24-25 November 2017 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.

Kegiatan itu diikuti 250 orang peserta dari 25 universitas di Indonesia, yang menggandeng empat universitas di Yogyakarta sebagai penyelenggaranya: Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Atmajaya Yogyakarta (UAJY), Universitas Sanata Dharma (USD) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lebih lanjut, Sri Sultan HB X memaparkan, dalam hal akulturasi budaya, pemahaman orang Barat berbeda dengan orang Indonesia.

Pemahaman orang Barat hanya mengenai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, orang Indonesia tidak hanya melibatkan ilmu pengetahuan.

"Namun selalu melibatkan tradisi dan pemahaman dari etnik-etnik yang ada serta mengedepankan etika dan moralitas yang diyakini sesuai agamanya masing-masing," kata Sri Sultan HB X.

Bangsa Indonesia dibangun dari perbedaan yang ada. Di mana etnik-etnik yang menjadi bagian dari bangsa ini pada tahun 1928 telah menyatakan diri bahwa dari berbeda itu harus menjadi satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.

“Para pendahulu kita telah berkomitmen untuk menjadikan seluruh perbedaan menjadi suatu persatuan sebagaimana yang telah tercantum dalam sila ke tiga Pancasila, yakni persatuan Indonesia," tandas Sri Sultan HB X.

Keberagaman merupakan suatu keunikan yang bisa memperkuat keutuhan bangsa. 'Kita memiliki suku Sunda, Jawa, Dayak, Badui dan lainnya, yang di situ diikat menjadi satu kesatuan yakni Indonesia," kata Sri Sultan HB X.

Bagi Gubernur DIY, semua keetnikan yang ada di Indonesia itu telah diakui dalam konstitusi. "Semua etnik di bangsa ini berhak punya aspirasi dan nilai pada kebangsaan dan kebudayaannya,” ujar Sri Sultan HB X.

Konstitusi, menurut Sultan HB X, juga memiliki peran penting dalam menentang kebodohan dan keterbelakangan yang ada di negeri ini.

Sri Sultan HB X berharap kepada peserta pelatihan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. "Agar bangsa kita memiliki daya saing dan bertahan terhadap persaingan global,” papar Sultan HB X.

Sementara itu, Yudi Latif, PhD, Ketua UKP PIP, mengatakan, pemahaman kita tentang Pancasila masih normatif. "Bahkan cenderung apatis," tandas Yudi yang berharap pengkaderan Pancasila ini menjadi panggilan hidup yang keluar dari jiwa terdalam sebagai manusia terdidik yang tercerahkan. (Affan)

Berita Terkait