Thu,14 December 2017


Zahrul, Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Indofakta 2017-11-21 14:43:47 Serba Serbi
Zahrul, Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

YOGYAKARTA -- Penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari semakin meningkat. Fleksibilitas, ringan, kuat, tahan terhadap korosi, transparan, mudah diwarnai dan sifat insolasinya yang cukup baik, menjadikan plastik sebagai salah satu  primadona dalam kehidupan sehari-hari. 

Sekarang ini, limbah atau sampah plastik semakin banyak ditemukan di sekitar kita. Sebagai gambaran, konsumsi plastik di Indonesia mencapai 10 kg per kapita per tahun. 

Plastik sangat sulit terurai di dalam tanah. Dan, waktu yang dibutuhkan bisa bertahun-tahun. Hal ini akan menimbulkan permasalahan tersendiri dalam penanganannya. 

Dari keprihatinan tentang permasalahan itulah, yang menjadikan Dr. Zahrul Mufrodi, MT, dosen Teknik Kimia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, memulai penelitian untuk mengbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak. 

Menurut Zahrul Mufrodi, bahan plastik memiliki kandungan energi yang tinggi. "Maka, potensi pemanfaatannya sebagai salah satu sumber energi memiliki prospek yang cukup bagus di masa mendatang," kata Zahrul, hari ini di Kampus 1 UAD Jl Kapas Yogyakarta.

Dari penelitian itu didapatkan dua keuntungan sekaligus, yaitu mengurangi problem sampah plastik dan menghasilkan energi yang bisa digunakan untuk mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil. 

Laki-laki yang  menyelesaikan program doktornya di Teknik Kimia UGM dan sandwich ke Tokyo Institute of Technologi Japan ini, mengubah plastik menjadi bahan bakar dengan menggunakan prinsip pirolisis. Di mana sampah plastik dipanaskan sekitar suhu 500 derajat Celcius. 

"Sehingga fasenya akan berubah menjadi gas dan kemudian akan terjadi proses perengkahan atau cracking," jelas Zahrul yang menambahkan gas yang dihasilkan kemudian dikondensasikan untuk mendapatkan minyak plastik. 

Alat pirolisis yang dibuat dilengkapi dengan pengontrol suhu, pengukur tekanan dan kondensasi bertingkat. Sehingga didapatkan degradasi hasil yang berbeda. 

Hasil bahan bakar minyak (BBM) dengan titik kondensasi yang lebih rendah, memiliki spesifikasi yang lebih baik, jika dibandingkan dengan titik kondensasi yang lebih tinggi. 

Penelitian itu masih berlanjut dengan pembuatan katalis berbahan dasar lokal untuk dicampurkan dalam reaktor pirolisis. Sehingga didapatkan hasil minyak plastik yang lebih baik dengan suhu proses yang lebih rendah.

Jenis plastik yang memungkinkan untuk diubah menjadi bahan bakar minyak adalah polypropylene (PP) yang banyak didapatkan pada komponen otomotif, tempat makanan dan minuman. Polystyrene (PS), kata Zahrul, biasa digunakan untuk kemasan, mainan dan peralatan medis. High density polyethylene (HDPE) biasa digunakan sebagai wadah makanan, wadah sampo dan sabun, serta kantong sampah. Low density polyethylene (LDPE) biasa digunakan untuk tempat makanan dan minuman dengan kontur plastik yang lebih lembek. 

Hasil bahan bakar minyak plastik ini, menurut Zahrul, memiliki spesifikasi sifat fisis telah diuji dan setara dengan solar dan premium. Sedangkan uji kalorinya minyak plastik ini mencapai lebih dari 10 ribu kalori/gr. Dan, 20 kg plastik jika dipirolisis bisa menghasilkan sekitar listrik sebesar 2,5 kW.

Dr. Zahrul Mufrodi sejak tahun 2009 telah meneliti mengenai energi, yang tiap tahunnya pernah didanai oleh Ristekdikti dengan skim hibah bersaing dan hibah pasca doktor, Departemen Pertanian dengan skim  KKP3T dan KKP3N.

Tahun 2015-2018 bekerja sama dengan Tokyo Institute of Technology (TiTech) Japan dengan Assoc Prof. Fumitake Takahashi, D.Eng, Zahrul memperoleh pendanaan penelitian dari Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) senilai hampir Rp 1,8 Miliar yang meneliti peningkatan pemahaman pada teknologi energi terbarukan sebagai penerimaan masyarakat (public acceptance). 

Ke depan, melalui Pusat Studi Energi dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna yang dipimpinnya, berusaha menciptakan pengelolaan sampah yang baik dari sisi manajemen, teknologi maupun mengubah perilaku masyarakatnya dengan mengedepankan reduce, reuse dan recycle (3R). (Affan)

 

Berita Terkait