Thu,14 December 2017


Pameran Tunggal Bonaventura Gunawan Re-Public: Reminding of Existence

Indofakta 2017-11-20 10:00:26 Infotainment
Pameran Tunggal Bonaventura Gunawan Re-Public: Reminding of Existence

SURAKARTA -- Gunawan atau lengkapnya Bonaventura Gunawan akan menggelar pameran tunggal seni grafis (printmaking) pada 23 November 2017 hingga 2 Desember 2017 di Balai Soedjatmoko Surakarta.

Pameran yang akan menggelar puluhan karya seni grafis ini disatukan dalam tajuk “Re-Public: Reminding of Existence”. 

Rencananya, pameran ini akan dibuka oleh Prof.Dr. Narsen Afatara, guru besar seni rupa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Sedangkan Kuss Indarto bertindak sebagai kurator dalam pameran tunggal Gunawan ini.

Pameran tunggal ini merupakan serial sambungan setelah pameran dengan tajuk yang sama berlangsung di Bentara Budaya Yogyakarta, pertengahan Agustus 2017 lalu. 

Tapi, kali ini, setidaknya ada 6 karya baru yang belum dipamerkan sebelumnya. Dan, ini menjadi pameran tunggal yang dilakukan setelah Gunawan beristirahat sekian lama dari dunia seni rupa.

Seniman lulusan Program Studi Seni Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (FSR ISI) Yogyakarta ini, setelah merampungkan studinya segera bertolak ke Jakarta untuk bekerja di beberapa lembaga, seperti sebagai desainer grafis di majalah Trubus, desainer di Sara Lee, dan sebagainya.

Rekan seangkatan -- masuk ISI Yogyakarta tahun 1986 -- seniman Yuswantoro Adi, Bambang Herras, dan lainnya ini telah sekian lama memendam hasratnya untuk berkiprah di dunia seni karena ingin mencari bekal pengalaman batin di jalur yang lain. 

Selepas dari Jakarta pun, sepulang ke Yogyakarta, Gunawan terjun di dunia bisnis. Sejak tahun 2007 hingga sekarang dia memiliki usaha persewaan scaffolding dalam skala yang cukup besar.

Perhelatan pameran tunggal “Re-Public: Reminding of Existence” ini, kiranya dapat dibaca sebagai upaya ulang-alik sang seniman terhadap persoalan personal dan psikologis dalam dirinya sendiri. Sekaligus sebuah ikhtiar besar Gunawan sebagai “si anak yang hilang” untuk kembali masuk pusaran penting dunia seni rupa, lokal dan nasional.

Kita tahu, dalam peta seni rupa di Indonesia — atau setidaknya di Yogyakarta — ada banyak prasyarat mendasar yang mampu menempatkan seseorang untuk menjadi seniman yang terpampang dalam peta, atau man on the map. 

Prasyarat itu antara lain: intensitas untuk terus-menerus berkarya secara konsisten, kemampuan untuk menggali dan melahirkan temuan karya yang unik, spesifik dan di luar arus besar(mainstream) hingga kemampuan seniman untuk mempresentasikan karya dengan menembus ruang dan kelas perhelatan tertentu. 

Tentu, masih banyak hal dan strategi yang bisa dilakukan oleh seniman untuk bisa on the map. Namun, ke tiga hal mendasar itu, yakni menyangkut perihal produktivitas, kreativitas untuk menciptakan kebaruan, dan mencari positioning diri dan karya seniman di ruang presentasi yang meluas dan meninggi, boleh jadi akan memberi sokongan besar ke arah tersebut.

Gunawan memiliki peluang untuk bisa menjadi man on the map dalam seni rupa ketika masih di bangku kuliah. Dibanding teman-teman seangkatannya di Seni Grafis Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta, kemampuan teknis dan penggalian tema karyanya relatif lebih menonjol. 

Intensitas pameran pun mulai kerap dijalaninya. Tapi, itu semua seperti terpotong habis ketika lulus kuliah. Dan, Gunawan punya pilihan hidup di luar jalur kesenian. Kesempatan ini merupakan peluang yang dibuatnya untuk kembali ke publik, mencoba berkontribusi dalam dunia seni.

Pada sisi yang lain, karya-karya yang ditampilkan oleh Gunawan ini, dalam pilahan posisi sebagai saksi, dokumentator dan penebar opini, pada akhirnya memiliki salah satu titik temu penting, yakni re-public. Yaitu, mengembalikan realitas sosial-politik-kemasyarakatan kepada publik dan masyarakat bahwa selalu ada sesuatu yang harus dibenahi. 

Karya seni, dalam konteks ini, berlaku sebagai salah satu media early warning (peringatan dini) atas segala sesuatu yang tak beres dalam masyarakat. Kiranya ini bukan hal yang berlebihan atau bombastis, namun realitas tersebut memang faktual. Maka, salah satu fungsi karya seni rupa adalah mampu membebaskan cara pandangmainstream yang pasif menjadi kritis.

Karya seni grafis bukanlah karya yang sederhana proses pengerjaannya. Ada kompleksitas dalam tahap-tahap pengerjaannya. Dan, inilah tantangan yang tengah digeluti dengan baik oleh Gunawan. Pilihannya untuk berkarya dengan teknik grafis cetak tinggi, adalah bagian dari minat, kemampuan dan kecintaannya pada teknik yang sederhana, klasik serta selaras dengan dunia ekspresinya.

Kini, Gunawan kembali ke “kawah candradimuka” seni rupa. Dia berharap banyak publik akan merespons dengan baik, termasuk tetap dengan kritisismenya. (*/affan)

 

Berita Terkait