Tue,21 November 2017


Langen Gita dan Wayang Kancil di Pendapa Tamansiswa Yogyakarta

Indofakta 2017-11-14 15:24:11 Daerah
 Langen Gita dan Wayang Kancil di Pendapa Tamansiswa Yogyakarta

YOGYAKARTA -- Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta harus bisa mempresentasi hadirnya kualitas sumber daya manusia Yogyakarta yang unggul dan kompetitif berbasis nilai-nilai keadaban luhur yang bersumber dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. 

Sebagai upaya menuju ke sana, seperti disampaikan Widihasto Wasana Putra, Pokja Penguatan Lembaga Pengelola dan Pelestari Warisan Budaya Dinas Kebudayaan DIY pada Rabu, 15 November 2017 pukul 19.00 WIB akan mengadakan "Gelar Budaya Keistimewaan dan Dialog Budaya" bertemakan pembangunan karakter sebagai basis keistimewaan DIY.

Dalam dialog budaya itu akan menghadirkan KRT Gondohadiningrat (Penghageng Kasultanan Yogyakarta), Dr. Sri Ratna Saktimulya, M. Hum (Kaprodi Sastra Jawa FIB UGM dan Kepala Perpustakaan Kadipaten Pakualaman), Ki Priyo Dwiarso (anggota Majelis Luhur Taman Siswa) dan praktisi pendidikan alternatif dari Sanggar Anak Alam Nitiprayan Kasihan Bantul Sri Wahyaningsih. 

"Masing-masing narasumber akan berbagi pengalaman dan perspektifnya mengenai pembangunan karakter di kalangan generasi muda," terang Widihasyo.

Seperti disampaikan Widihasto, gelar budaya keistimewaan akan dibuka dengan penampilan pentas langen gita berjudul "Ambuka Raras Angesthi Wiji", yang merupakan pentas seni gabungan 90 orang siswa Tamansiswa sejak dari Taman Indria sampai dengan Taman Madya (TK, SD, SMP, SMA) dan mahasiswa UST (Universitas Sarjana Wiyata Tamansiswa) yang memadukan semua unsur puncak pendidikan kesenian yang dilakukan di perguruan Tamansiswa. Ada dolanan anak, langen carita, pencak silat, operet, geguritan, tari, menyanyi dan paduan suara.

Adapun "Ambuka Raras Angesti Wiji" terpahat di anak tangga pendapa agung Tamansiswa, yang bermakna menyanyi, nembang, dan berkesenian. "Hal itu nerupakan ujung tombak mendidik anak," papar Widihasto.

Pendidikan anak menggunakan metode berkesenian sengaja diciptakan Ki Hadjar Dewantara untuk membentuk karakter watak dasar budi pekerti anak, yang diyakini mampu mengiringi anak hingga tumbuh dewasa. 

Konsep ini dinamakan Ki Hadjar Dewantara sebagai metode Sariswara, yakni metode yang memberikan pengalaman lengkap kepada seluruh indra pendengar, olah gerak, penglihatan dan perasaan, atau cipta-rasa-karsa.

Gelar budaya keistimewaan dipungkasi dengan pertunjukan pentas wayang kancil dengan judul "perang banyu" oleh dalang Ki Dr. Eddy Pursubaryanto, M. Hum dari FIB UGM, yang  disebut banyak kalangan sebagai dalang pewaris kesenian wayang kancil sepeninggal Ki Ledjar Subroto.

Dijelaskan ketua panitia penyelenggara, Widihasto Wasana Putra, pentas wayang kancil sengaja dipilih mengingat kesenian yang sarat moral cerita ini terbilang jarang dipentaskan. (Affan)

 

 

Berita Terkait