Tue,21 November 2017


PP 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan Mencari Model Gerakan Literasi Masyarakat

Indofakta 2017-10-14 12:54:34 Serba Serbi
 PP 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan Mencari Model Gerakan Literasi Masyarakat

YOGYAKARTA -- Pimpinan Pusat 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan adakan workshop "Pengembangan Model Taman Pustaka 'Aisyiyah" di kantor PP 'Aisyiyah Jl KH Ahmad Dahlan Yogyakarta, Sabtu (14/10). 

 

Aisyiyah yang saat ini ada di 34 wilayah, 409 daerah dan 7 ribu cabang serta lebih 12 ribu ranting akan membuat pilot project taman pustaka anak di Kulonprogo dan Gunungkidul. "Ke depan, akan lebih banyak dibuat di Ranting dan Cabang Aisyiyah di seluruh Indonesia," terang Widiyastuti, anggota PP 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan.

 

Mahsunah Syakir MEK, Ketua PP 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan, mengatakan, kegiatan yang semula akan diadakan 7 Oktober 2017 ini sudah terencana lama. "Model-model perpustakaan sudah dipikirkan pafa periode lalu karena masih tingginya angka buta huruf, khususnya di Jawa," kaya Mahsunah.

 

Menurut Mahsunah, rendahnya minat baca bisa sampai ke rantai kemiskinan. Dan, Indonesia menempati urutan 60, tertinggal dari negara lain. "Perlu upaya serius meningkatkan minat baca," tandas Mahsunah yang menambahjan 'Aisyiyah tergerak adakan kegiatan ini sebagai gerakan ke arah literasi. 

 

Ketua PP 'Aisyiyah Koordinator Lembaga Kebudayaan, Dra Susilaningsih Kuntowijoyo, MA, bersyukur PP 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan bisa melaksanakan pengembangan model taman pustaka khusus Aisyiyah. "Dalam rangka meningkatkan daya baca dan literasi," papar Susilaningsih. 

 

Visi gerakan 'Aisyiyah adalah Islam berkemajuan, pencerahan, dan perempuan berkemajuan. Dan, program PP 'Aisyiyah Lembaga Kebudayaan ini, salah satu bentuk realisasi gerakan pengembangan keilmuan.

 

Di sisi lain, Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY, Budi Wibowo, SH, MM, mengatakan, budaya baca Indonesia sangat rendah dengan peringkat ke-60. Negara Asean lainnya jauh melesat seperti Malaysia (53), Thailand (59) dan Singapore (36). "Negara Baltik menempati peringkat lima besar," tandas Budi Wibowo.

 

Menurut Budi, perlu ada kebijakan nasional, regional dan lokal yang mendukung implementasi gerakan literasi informasi. "Dan menjamin pelaksanaannya di berbagai jenis perpustakaan," kaya Budi Wibowo.

 

Sedangkan pendiri Rumah Baca Komunitas, David Efendi, menambahkan, literasi tidak cukup hanya dijelaskan dengan kegiatan memberantas buta huruf dan hanya aktifitas mengajak masyarakat membaca buku.

 

Lalu, apa yang bisa kita pahami mengenai literasi? "Ada banyak pemahaman merentang dari berbagai institusi dan bahkan banyak negara mempunyai definisinya secara istimewa," kata David, pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah. (affan)

Berita Terkait