Thu,23 November 2017


MANTAN GUBERNUR JABAR AKUI DAN 10 MILYAR BUKAN UNTUK PEMBANGUNAN GBLA

Indofakta 2017-09-11 18:09:24 Hukum / Kriminal
 MANTAN GUBERNUR JABAR AKUI DAN 10 MILYAR BUKAN UNTUK PEMBANGUNAN GBLA

BANDUNG - Mantan Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dani Setiawan mengakui bahwa pihaknya pernah memberikan uang Rp10 milyar kepada Pemerintah Kota Bandung. Pemberian tersebut dimaksudkan sebagai bantuan Pemprov Jabar kepada Pemkot Bandung. Tapi diketahui kemudian bahwah uang tersebut tidak digunakan sebagai biaya pembangunan GBLA.

Hal tersebut disampaikan oleh Dani Setiawan dalam sidang lanjutan perkara korupsi Stadion GBLA Kota Bandung (11/9/2017). Mantan Gubernur Provinsi Jawa Barat yang tampil bersama H. Dada Rosada (Mantan Walikota Bandung), Kepala Bappeda Jabar, Prof. Denny Juanda dan Sri Mulyono (Mantan Kepala Biro Keuangan Pemprov Jabar) mengatakan bahwa, uang Sebesar Rp10 milyar telah lebih dulu diserahkan ke Pemkot Bandung pada 14 Desember 2006. Baru pad akhir Desember 2006 diadakan diskusi dengan pihak Pemkot Bandung di rumah dinas Gubernur Provinsi Jawa Barat. Dana tersebut kemudian diketahuinya tidak digunakan untuk membangun GBLA. " Saya tidak tahu uangnya digunakan untuk apa, " tukas Dani kepada Ketua Majelis Hakim, H. Fuad Muhammadi, SH.,MH.

Dalam sidang dengan menghadirkan 4 saksi sekaligus itu, para saksi ditanyai secara berganti. H. Dada Rosada yang mendapat paling banyak pertanyaan baik dari JPU, Penasehat Hukum terdakwa dan Majelis Hakim. Menurut Dada, pihaknya sungguh memperjuangkan adanya Stadion di Kota Bandung. Untuk itu, pihaknya telah memohon ke Pemerintah Pusat dan Pemprov Jabar. Namun usulannya ke Pusat tidak mendapat tanggapan. Lalu ke Pemprov Jabar diusulkan lagi agar pembangunan dapat dilaksanakan dengan pembiayaan secara sharing, Pemprov Jabar sebesar 60% dan Pemkot Bandung 30%. Namun pada saat Dani Setiawan sebagai Gunernur Jabar tidak dapat memenuhinya. Pihak Pemprov Jabar hanya memberi bantuan Rp50 milyar yang tidak sempat dicairkan.

Masih menurut Dada Rosada, setelah Gubernur dijabat oleh Ahmad Heryawan pembangunan dapat dilanjutkan. Dalam hal penunjukan terdakwa Yayat sebagai PPK, pihaknya hanya menandatangani. Semua personil diusulkan oleh Kepala Dinas Cipta Karya, Yuniarso Ridwan. Dada juga mengatakan,  Stadion GBLA lebih bagus dibandingkan dengan stadion lainnya di Jabar seperti di Bogor dari segi kualitas dengan biaya yang hampir sama.

Yayat Ahmad Sudrajat telah didakwa  bersama-sama dengan Yuniarso Ridwan, Rusjaf Adimenggala, Totoh Rustandi, dkk merugikan keuangan negara sekira Rp103 milyar. Dalam agenda sidang pertama dengan agenda pembacaan Surat Dakwaan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU), M. Tasjrifin, SH, MH dan Yanwar, SH, Dkk menyebutkan bahwa terdakwa Yayat dalam kedudukannya sebagai Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung pada tahun 2009 - 2013 bersama-sama dengan Kepala Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung, Dkk telah melakukan tindak pidana korupsi. Tindakan dilakukan sejak proses pembangunan stadion yang berbiayaRp545.535.430.000,- (lima ratus empat puluh lima milyar lima ratus tiga puluh lima juta empat ratus tiga puluh ribu rupiah) itu dilaksanakan pada tahun 2009. Yayat yang ditahan sejak 6 Juni 2017dan penahanannya telah diperpanjang Pengadilan Tipikor Bandung itu didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 jo. Pasal 18 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 64 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana dengan ancaman maksimal 20 tahun pidana penjara, pidana denda dan mengganti kerugian negara yang ditimbulkannya.

JPU menguraikan, Kegiatan Pembangunan Stadion GLBA dilakukan oleh Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung, PT Penta Rekayasa (Konsultan Perencana), PT Adhi Karya (kontraktor pelaksana pekerjaan), PT Indah Karya selaku Konsultan Manajemen Kontruksi. Perkara dengan Register No. 72/Pid.Sus/2017/PN Bdg itu masih akan dilanjutkan pekan depan dengan agenda pemeriksaan para saksi. (Y CHS).


 

Berita Terkait