Sat,23 September 2017


Nyai Ahmad Dahlan The Movie

Indofakta 2017-08-24 08:19:28 Infotainment
Nyai Ahmad Dahlan The Movie

YOGYAKARTA -- Sosok Siti Walidah bagi sebagian masyarakat, cukup asing didengar. Masyarakat lebih familiar dengan sebutan Nyai Ahmad Dahlan karena dia adalah istri KHA Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Makanya, film bertemakan sejarah Nyai Ahmad Dahlan siap tayang mulai 24 Agustus 2017. 

 

Film seorang pejuang nasional yang diproduksi Iras Film itu sengaja diluncurkan di tengah perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-72.

 

Nyai Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) adalah tokoh emansipasi perempuan dari Kauman, kampung santri di Yogyakarta. Pada zamannya ia menjadi panutan kaum perempuan dan pernah menjqdi perempuan yang memimpin Kongres Muhammadiyah tahun 1926.

 

Film Nyai Ahmad Dahlan itu diangkat jadi film dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan. "Dan cinta tanah air pada sosok pahlawan nasional kita," kata Dyah Kalsitorini, sang produser.

 

Di sisi lain, menurut Widiyastuti, yang juga masih keluarga KHA Dahlan, saat ini belum banyak sosok pahlawan nasional Indonesia perempuan yang diangkat menjadi sebuah film biopic. Hanya beberapa saja yang sudah diangkat. "Padahal sangat banyak dan sosok mereka bisa menjadi suri tauladan bagi masyarakat," tandas Widiyastuti, Kamis (24/8).

 

Menurut Tika Bravani, pemeran Nyai Ahmad Dahlan, ini adalah sebuah film yang menggambarkan tentang perjuangan seorang pahlawan nasional wanita yang gigih melawan penjajahan.

 

"Berbicara mengenai pendidikan usia dini di Indonesia, kita tidak bisa melupakan peran besar Nyai Ahmad Dahlan," kata Tika Bravani, yang menambahkan sejak 1919 sudah merintis berdirinya pendidikan usia dini di Kauman Yogyakarta.

 

Menambahkan apa yang disampaikan Tika Bravani, Widiyastuti mengatakan bahwa pada saat itu Nyai Ahmad Dahlan terinspirasi dengan konsep pendidikan Froebel yang dijalankan Belanda untuk anak-anak balita mereka. "Nyai Ahmad Dahlan prihatin karena saat itu banyak anak-anak balita pribumi yang bermain tanpa bimbingan orangtua karena harus bekerja sebagai buruh di perusahaan batik di sekitar Kauman," papar Widiyastuti.

 

Melalui organisasi Aisyiyah, Nyai Ahmad Dahlan mengumpulkan anak-anak balita untuk diajak belajar sambil bermain.

 

Agar perjuangan dan cerita panjang keterlibatan Nyai Ahmad Dahlan dalam pendidikan dan pergerakan kaum perempuan tidak usang ditelan zaman, maka keluarga KHA Dahlan membuat film Nyai Ahmad Dahlan yang dibintangi David Chalik (pemeran KHA Dahlan) dan Tika Brivani.

 

Film yang disutradarai Olla Aja Adonara itu diproduseri Dyah Kalsitorini dan Widiyastuti serta didukung keluarga besar KHA Dahlan yang tergabung dalam Yayasan KH Ahmad Dahlan. 

 

Tak ketinggalan dukungan puluhan kader dan aktifis Muhammadiyah turut menyukseskan film yang shooting di wilayah Kota Yogyakarta, Kulonprogo dan Gunungkidul. Dan, kemegahan film ini tidak terlepas dari kelihaian Tya Subiyakto sebagai pengaransemen lagu film yang diproduksi Iras Film ini.

 

Seperti dikatakan Ahmad Djam'an dari Yayasan KH Ahmad Dahlan, film Nyai Ahmad Dahlan menjadi pelengkap dari film sebelumnya berjudul Sang Pencerah. "Hanya saja pada film ini fokus utamanya lebih dititikberatkan pada peranan dan sosok Nyai Ahmad Dahlan dalam pergerakan Muhammadiyah dan perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Ahmad Djam'an.

 

Film yang tayang serentak di bioskop tanah air pada 24 Agustus 2017 sudah mengadajan gala premiere di Jakarta, Makassar, Surabaya dan terakhir di Yogyakarta. "Dipilihnya Yogyakarta sebagai gala premiere puncak, selain karena proses syutingnya di Yogyakarta juga merupakan ibukota Muhammadiyah," tandas Ahmad Djam'an.

 

Film ini menjadi bukti dan mempertegas, mengapa Nyai Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai salah satu pahlawan nasional.

 

Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Hj Chamamah Soeratno, mengaku, film Nyai Ahmad Dahlan ini adalah sebuah amanah. Film itu dibuatnya dengan apik dan jalan cerita yang menyentuh hati. "Sosok beliau sangat hebat dan setiap perjalanan hidup Nyai Ahmad Dahlan sangat inspiratif," kata Hj Chamamah Soeratno.

 

Dalam durasi 98 menit, sang penulis skenario Dyah Kalsitorini berusaha menggambarkan sosok Nyai Ahmad Dahlan sebagai seorang istri, ibu, guru, sekaligus sahabat dan pejuang. (affan)

Berita Terkait