Fri,24 November 2017


Wagubsu Minta Razia di Pintu Masuk Sumut Lebih Sering Dilakukan

Indofakta 2017-08-22 22:56:08 Serba Serbi
Wagubsu Minta Razia di Pintu Masuk Sumut Lebih Sering Dilakukan

TANJUNGBALAI-Wagubsu Dr Nurhajizah Marpaung mengharapkan agar pengawasan terhadap beredar dan masuknya obat dan makanan khususnya di Tanjung Balai agar lebih diawasi. “Kepada aparat keamanan seperti dari kepolisian dan BPOM agar terus melakukan operasi/razia khususnya di pintu-pintu masuk seperti di Tanjung Balai, perbatasan Riau, Kuala Tanjung, Belawan. Bagaimana peningkatan efektifitas pengawasan obat dan makanan khususnya di Sumut, lebih khusus lagi di Tanjung Balai,” Ujar Wagubsu.

Hal tersebut di katakan Nurhajizah pada Sosialisasi Implementasi Inpres RI No.3 tahun 2017 Tentang Efektifitas Pengawasan Obat dan Makanan, Selasa (22/8) di Kantor Walikota Kota Tanjung Balai.

Hadir pada kesempatan itu Wakil Walikota Tanjung Balai Drs H Ismail, Kepala Balai Besar POM  Medan Drs Yulius Sacramento Tarigan, mewakili FKPD Kota Tanjung Balai, Sekda Kota Tanjung Balai dan SKPD Kota Tanjung Balai dan jajaran Balai Besar POM Medan.

Kenapa Tanjung Balai, dikatakan Wagubsu bahwa di Kota Tanjung Balai seperti yang telah diinformasikan Bapak Wakil Walikota bahwa “jalan tikusnya” di tanjung Balai ini cukup banyak. Dan dari sinilah masuknya obat atau makanan yang illegal itu masuk.  Menurut informasi yang didapatkan dari aparat bahwa lebih kurang satu hingga dua ton per dua minggunya obat terlarang masuk ke daerah Tanjung Balai. Dan yang memakai obat-obat terlarang tersebut banyak ditemukan dari kalangan anak-anak.

Hal itu juga dikarenakan Tanjung Balai merupakan pintu masuk barang dan obat dari Malaka. Oleh karenanya Wagubsu mengajak seluruh pihak khususnya kepada pemerintah Tanjung Balai untuk terus mendukung pengawasan ketat terkait masuknya obat dan makanan dari luar. “Kita harus bekerjasama untuk mencapai tujuan kita untuk kekondusifan Tanjung Bali dan Sumatera Utara pada umumnya.

Terkait aparat untuk pengawasan obat dan makananan Wagubsu menghimbau agar Badan Pengawasan Obat dan Makanan agar fasilitasnya terus ditingkatkan guna optimalnya pengawasan yang dilakukan. “Kalau dimisalkan pada pengamanan demonstrasi untuk satu pendemo harus diamankan 4 aparat pengamanan (polisi),” ujar Wagubsu.

Hal senada juga disampaikan Wakil Walikota Kota Tanjung Balai Wakil Drs H Ismail kota Tanjung Balai merupakan pintu masuk perairan Selat Malaka seperti Malaysia. Dan merupakan kota yang terpadat di Asia Tenggara. Yang memiliki banyak pintu masuk yang sulit dijangkau aparat pengawasan (jalan tikus).

Kota ini lanjutnya bukan kota industri berarti tidak ada produk makanan. Bukan kota pertanian atau perkebunan berarti tidak ada produk perkebunan . Juga bukan laut yang artinya tidak hasil laut. Jika ditemukan adanya bahan-bahan kebutuhan yang digunakan masyakarat sehari-hari adalah masuk dari daerah lain. Pintu masuknya terutama dari pelabuhan yang memungkinkan produk-produk dari luar negeri seperti Malaysia.

Dengan demikian banyak obat dan makanan yang masuk tidak terjangkau dari pengawasan. Oleh karenanya kegiatan saat ini sangat penting khususnya untuk kota Tanjung Balai. “Kami mengucapkan terima kasih dengan adanya pertemuan ini, karena kota Tanjung Balai merupakan Kota yang rawan  masuk dan beredarnya obat terlarang dan makanan yang lepas dari pengawasan,” ujarnya.

Kepala Balai Besar POM  Medan Drs Yulius Sacramento Tarigan mengatakan bahwa implementasi Inpres RI No. 3 tahun 2017 adalah tujuannya dalam upaya peningkatan upaya perlindungan masyarakat dari obat dan makanan yang berisiko terhadap kesehatan. Karena dari data statistik di Indonesia 2013 setiap 1 juta orang penduduk 50 orang gagal ginjal itu yang masuk ke rumah sakit. Dan dari kajian ilmiah penyebanya adalah adanya obat dan makanan yang tidak memenuhi syarat masuk ke dalam tubuh,” ujarnya.

Namun akibatnya tidak langsung dirasakan melainkan 10-20 tahun. Sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran. Sehingga upaya yang dilakukan selama ini belum memberikan efek jera yang efektif. Karena sanksi hukumnya juga masih ringan.

Disampaikan Julius pada saat melakukan pengawasan,  di pasar tradisional di tanjung Balai masih ada membuat bakso dengan menggunakan boraks padahal seperti diketahui bahwa boraks adalah salah satu bahan-bahan yang menyebabkan gagal ginjal dan lain sebagainya. Juga produk-produk  yang illegal yang artinya belum terdaftar, belum dievaluasi yang memiliki resiko tinggi untuk kesehatan. Oleh karenanya Sosialisasi ini sangat penting khsusnya di Kota Tanjung Balai. “Dengan demikian Badan POM akan memprioritaskan untuk mendirikan Badan POM di kabupaten/kota khususnya di Kota Tanjung Balai,” ujarnya.

Usai kegiatan di Kantor Walikota Tanjung Balai Wagubsu berkesempatan melakukan peninjauan ke pasar tradisional Kota Tanjung Balai dan masih ditemukan penggunaan boraks agar makanan (ayam) terlihat segar. Begitu juga pada sebuah ruko yang menjual makanan ringan masih ditemukan makanan-makanan yang illegal (diluar pengawasan Balai Besar POM).

“Makanan yang illegal tersebut akan disita  dan diteliti pihak kepolisian dan BPOM, bila tidak sesuai syarat kesehatan akan dimusnahkan. Dan tidak menutup kemungkinan pemilik took akan diberikan sanksi hukum,” ujar Wagubsu. (Rafa)

Berita Terkait