Sun,19 November 2017


Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi Intelegensia Muda Berkarakter Tradisi Besar

Indofakta 2017-08-21 16:38:11 Edukasi
 Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi Intelegensia Muda Berkarakter Tradisi Besar

BANTUL -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, MSi, mengajak mahasiswa baru (maba) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2017 agar menjadi intelegensia muda yang punya karakter tradisi besar.

Karakter tradisi besar yang dimaksudkan Haedar itu adalah karakter sebagai insan berkemajuan yang bisa membawa Islam menjadi agama peradaban dan membangun peradaban bangsa Indonesia yang lebih maju.

Saat memberikan sambutan di depan 5.233 maba UMY angkatan 2017 dalam acara masa ra'aruf (mataf), Senin (21/8), di Sportorium Kampus Terpadu UMY, Haedar menyebutkan ada lima ciri dari karakter tradisi besar yang harus dimiliki oleh maba 2017 UMY.

Pertama, mahasiswa harus menjadi orang yang religius, saleh, mengetahui dan bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah serta mana yang pantas dan tidak pantas. "Ciri ke dua, menjadi insan yang cerdas dan berkeahlian. Ke tiga, menjadi insan yang mandiri, tidak manja dan berdiri tegak di atas kemampuan sendiri. Ke empat, punya solidaritas kolektif. Ke lima, menjadi kader umat dan bangsa yang bisa membawa pencerahan untuk bangsanya sehingga ketika menjadi mahasiswa lebih-lebih setelah lulus kuliah, bukan hanya berguna bagi diri sendiri dan keluarga, tapi juga menjadi rahmatan lil 'alamin," jelas Haedar.

Dikatakan Haedar, mahasiswa baru UMY sudah sepantasnya untuk bersyukur. Karena dari 33.000 lebih calon mahasiswa baru yang mendaftar, hanya 5.233 mahasiswa yang berhasil dinyatakan sebagai mahasiswa UMY. "Ini adalah karunia dan nikmat Allah SWT yang tidak mudah," tandas Haedar.

Haedar juga menjelaskan tentang peran Muhammadiyah dalam pembangunan bangsa Indonesia. Menurutnya, Muhammadiyah bukan hanya sekadar organisasi kemasyarakatan dan dakwah, tapi juga merupakan organisasi yang telah mengukir kisah sukses pembaharuan di negeri tercinta ini.

Muhammadiyah telah mengajari bangsa ini agar menjadi bangsa terdidik, yang punya kepribadian dan iman yang kokoh. "Muhammadiyah juga telah melahirkan proses perubahan di tubuh umat dan bangsa ini dari keterjajahan, keterbelakangan dan dari keadaan yang belum maju menjadi masyarakat yang maju dan dalam kehidupan yang merdeka," kata Haedar lagi.

Dikatakan Haedar, Muhammadiyah juga ikut mendirikan republik ini. Bahkan tokoh sentralnya, Ki Bagus Hadikusumo, juga menjadi tokoh penentu perjalanan bangsa. Tokoh ini memberi solusi, yakni demi bangsa dan negara, rela atas nama umat Islam mencoret tujuh kata dalam piagam Jakarta dan mengganti dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila.

Dan dari situlah terjadi kompromi yang menentukan sejarah perjalanan bangsa ini. "Artinya, dari rahim tokoh Muhammadiyah, bangsa ini berdiri tegak dan menentukan sejarah perjalanannya dalam kebersamaan sebagai sebuah bangsa yang majemuk, di mana umat Islam sebagai mayoritas memberi hadiah terbesar untuk bangsa ini lewat tokoh-tokohnya," kata Haedar yang mengajak mahasiswa baru untuk memiliki karakter demi membangun peradaban bangsa yang lebih maju.

Rektor UMY, Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, MP, mengatakan, mahasiswa yang datang ke UMY berarti datang ke tempat yang tepat. "Karena datang di organisasi di mana Pancasila dilahirkan," tandas Gunawan sambil menambahkan pendidikan dan kesehatan Muhammadiyah bukan hanya untuk muslim saja, tapi juga untuk nonmuslim. (affan)

Berita Terkait