Wed,20 September 2017


ISI Yogyakarta Gelar Indonesian Kriya Festival dan Yogya Kreatif Musik

Indofakta 2017-08-21 13:58:08 Nasional
ISI Yogyakarta Gelar Indonesian Kriya Festival dan Yogya Kreatif Musik

YOGYAKARTA -- Ekonomi kreatif diyakini mampu dijadikan salah satu pilar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini terkait dengan peran pengembangan ekonomi kreatif yang diyakini sebagai alternatif dalam menyelesaikan masalah penyerapan tenaga kerja, peningkatan pemasukan devisa negara dan penumbuhan PDB nasional.

 

Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, peningkatan daya saing menjadi pilihan utama untuk strategi perekonomian Indonesia. Dan, memasuki tahun ke-10 dalam pengembangan ekonomi kreatif, Bekraf membuat langkah konkret yang terstruktur untuk mengembangkan industri pada tiap-tiap subsektor. Ekonomi kreatif yang digerakkan oleh Bekraf difokuskan pada 16 subsektor industri kreatif.

 

Pengembangan ekonomi kreatif, khususnya pada subsektor kriya di Indonesia, memerlukan arah dan strategi yang jelas, berbasis pada pertimbangan-pertimbangan matang secara kualitatif dan kuantitatif.

 

Potensi, permasalahan, tantangan dan peluang itu akan dibicarakan dalam simposium nasional melalui talkshow, master class, workshop dan pameran produk kriya unggulan di Hotel Inna Garuda pada 26-28 Agustus 2017. Kegiatan "Bekraf Creative Labs" yang menggandeng LPPM Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bertemakan Indonesia Kriya Festival (IKraFest) 2017 akan dibuka Ketua Bekraf Indonesia Triawan Munaf.

 

Kriya menjadi salah satu subsektor yang dipilih pemerintah dalam pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. "Kriya merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang tumbuh bersama budaya masyarakat dan terbukti telah memberi peran dalam peningkatan kesejahteraan," kata Arif Suharson, MSn, Ketua Program IKraFest 2017 dan Ketua Subsektor Kriya, didampingi Drs Sukoco, MHum (Penanggungjawab Yogya Kreatif Musik) dan Dr Nur Sahid, MHum (Ketua LPPM ISI Yogyakarta), Senin (21/8).

 

Menurut Arif Suharson, kriya juga hidup di hampir setiap wilayah pedesaan yang menggerakkan ekonomi masyarakat. "Dan menjadi sumber kehidupan masyarakat yang bergerak dalam bidang kriya meliputi batik, keramik, gerabah, kayu, rotan, logam, kulit, bambu dan material bahan lainnya yang dapat dijadikan produk kreatif bernilai ekonomi tinggi," terang Arif.

 

Bahkan, keberadaannya juga telah dihasilkan produk-produk dari bahan limbah, bahan alam, dan alternatif kombinasi bahan lain yang digubah menjadi produk cinderamata ataupun seni hias elemen eksterior maupun interior.

 

Industri kriya di Yogyakarta, menurut Nur Sahid, banyak tersebar di seluruh wilayah desa yang memiliki basis tenaga kerja trampil. "Kriya sebagai salah satu komoditas ekonomi yang banyak melibatkan masyarakat memiliki karakter khas pada ketrampilan tangan," tandas Nur Sahid.

 

Dikatakan Nur Sahid, nilai crafmanship yang dimiliki masyarakat Yogyakarta sangat menunjang bagi eksistensi kriya. Untuk itu, pelaku kriya perlu melakukan inovasi dari segi produk, teknologi dan kiat-kiat jitu pemasaran global yang efektif. "Juga melakukan terobosan baru dan pengembangan, baik secara teknis maupun nonteknis," papar Nur Sahid.

 

IKraFest 2017 akan melibatkan berbagai unsur masyarakat yang diundang khusus meliputi praktisi, akademisi, media, komunitas dan pemerintah. "Melalui kegiatan ini para pelaku kriya dari berbagai wilayah di Indonesia akan memperoleh pemahaman yang baik termaot berbagai hal tentang kriya," kata Arif Suharson yang menambahkan para pelaku kriya akan selalu meng-up to date informasi terbarukan dan meng-up grade pola pikir kriyawan untuk selalu maju dan siap bersaing di dunia global.

 

Dalam IKraFest 2017 akan menghadirkan Dr H Komaruddin Kudiya, SIP, M.Ds (Ketum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia/Batik Komar Pekalongan), Ir Sunoto (Ketua DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia) dan Dr Ir Yulriawan Dafri, MHum (Ketua Jurusan Kriya ISI Yogyakarta). Selain itu ada pula master class yang menghadirkan Dr Timbul Raharjo, MHum (praktisi dan akademisi kriya) dan Amir Panzuri (pendiri APIKIRI).

 

Untuk workshop tentang teknik pewarnaan batik modern disampaikan Bayu Aria Widhi, SSn, pemilik studio batik Hotwax Studio (kriyawan). 

 

Dalam pameran produk kriya unggulan menampilkan kriyawan, perusahaan, komunitas, dan desainer dalam dunia kriya dari Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali, yang menampilkan produk kriya dengan muatan tradisi, semangat masa kini, produk modern atau kontemporer dengan konsep, teknik dan kreatifitas media yang berbeda. Untuk pameran produk kriya unggulan menghadirkan kurator Drs Octo Lampito, MPd, Dr Timbul Raharjo, MHum, dan Alvi Lufiani, MFA.

 

Melalui pameran itu, diharapkan dapat menjadi ajang dialog pelaku kriya nasional bereputasi internasional, masyarakat, stakeholders, dan lembaga/instansi pemerintah terkait untuk meningkatkan kualitas karya yang dimiliki. 

 

Ke depan, produk unggulan kriya mampu menjawab kebutuhan konsumen sebagai mass product memenuhi kebutuhan pasar industri global.

 

Berkaitan Bekraf Creative Labs (BCL) subsektor musik, menurut Drs Sukoco, MHum selaku penanggungjawab, cakupan pembahasan meliputi kreasi, produksi, distribusi, konsumsi dan konservasi. "Nanti akan ada masukan kepada pelaku industri musik pentingnya pengembangan musik yang berkarakter Indonesia," tandas Sukoco yang menambahkan narasumber dalam acara itu adalah Dwiki Darmawan (musisi dan pelaku industri kreatif), Dr Wawan Rusiawan (pemerintah/Bekraf), dan Adib Hidayat dari Majalah "Rolling Stones". Ada pula Peni Chandra Rini (vokalis tradisi) dan Endah Laras (vokalis multi genre musik), Oni Nirkreswinto (musisi musik barat) dan Djaduk Ferianto (musisi musik etnis). (affan)

 

Berita Terkait