Sat,18 November 2017


Pertolongan Pertama Trauma Psikologi dari Perawat

Indofakta 2017-08-05 12:53:50 Kesehatan
Pertolongan Pertama Trauma Psikologi dari Perawat

YOGYAKARTA -- Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan maupun penghidupan masyarakat. Hal itu dapat disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam maupun faktor manusia, yang mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.


Ketika seseorang menjadi korban dari sebuah bencana, hal itu bisa menyebabkan trauma psikologis, yang dapat membuat korban mengalami post traumatic stress disorder (PTSD).

 

"Dalam menangani korban bencana yang mengalami trauma, perawat memiliki peran penting agar dapat memberikan pertolongan pertama yang dibutuhkan," kata Shanti Wardaningsih, M.Kep, Sp.Kep. Jiwa, PhD, Sabtu (5/8), dalam 4th International Emergency Nursing Camp (IENC) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

 

Trauma psikologis, menurut Shanti, merupakan jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. "Dalam hal ini adalah bencana," kata Shanti yang menambahkan kerusakan itu dapat mengakibatkan ketidakteraturan regulasi neuropsikologi yang akan menggangu kemampuan korban dalam bertindak atau merespon suatu tindakan.

 

Ketika menyampaikan Psychological Problems in Disaster: Cause, Effect, and Treatment, a da beberapa faktor yang memengaruhi besarnya efek dari bencana itu kepada trauma psikologis yang dialami korban.

 

Faktor yang pertama adalah seberapa langsungnya kejadian itu berdampak kepada mereka, yaitu ketika kejadian bencana terjadi dan keterkaitan emosional terhadap bencana. Lalu, yang kedua adalah faktor individual. Ini termasuk sejarah traumatik yang mungkin dimiliki korban, kelainan genetik, umur dan lain-lain.

 

"Hal-hal itu harus dipertimbangkan oleh perawat dalam memberikan penanganan untuk korban," jelas dosen Keperawatan UMY ini.

 

Menurut Shanti, apabila tidak dimedikasi secara tepat, trauma psikologi yang dialami oleh korban bencana alam dapat mengarah kepada post disaster PTSD.

 

Ada beberapa tahap yang terjadi ketika seseorang mengalami trauma psikologi akibat bencana. Yang pertama adalah syok, goncangan yang dialami korban ketika kejadian bencana terjadi. Lalu, ini berlanjut pada masa awal setelah kejadian bencana terjadi, ada istilah honeymoon yaitu 1 hingga 3 bulan pertama di mana korban akan merasa aman dari bencana.

 

Kemudian, pada 3 hingga 6 bulan setelah kejadian ada istilah disillusionment, yaitu rasa kekecewaan atas hal yang terjadi pada korban.

 

Shanti melanjutkan, masa-masa setelah 6 bulan merupakan waktu yang krusial. Pada waktu ini, kondisi korban terhadap trauma psikologi bisa berubah jadi lebih baik atau malah breakdown. "Ini yang berusaha kita cegah karena bila tidak ditangani korban bisa mengalami post disaster PTSD yang dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan dan juga lingkungan sekitar korban," tandas Shanti.

 

Pengaruh itu dapat berefek pada hubungan sosial korban dengan orang terdekat, bahkan diri sendiri. Post disaster PTSD juga dapat memengaruhi perilaku dan respon korban dalam beraktivitas sehari-hari.

 

Mengingat berbedanya treatment yang dibutuhkan korban bencana untuk menangani trauma psikologi, Shanti menyebutkan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan, perawat dapat memberikan psychological first aid untuk korban. Pertolongannya mengacu pada safety, calm, connectedness, self-efficacy dan hope.

 

"Tujuannya, agar perawat dapat merespon keadaan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh korban," ungkap Shanti dalam acara yang diadakan oleh Nursing Care Club Emergency UMY, diikuti mahasiswa keperawatan dari berbagai universitas di Indonesia, Australia, Malaysia, dan Thailand. (Affan)

 

Berita Terkait