Wed,20 September 2017


Apoteker Asia Mencari sebuah Konferensi Praktis

Indofakta 2017-07-29 10:09:31 Kesehatan
  Apoteker Asia Mencari sebuah Konferensi Praktis

YOGYAKARTA  – Sampai saat ini, apoteker telah mengembangkan perannya dalam apotek klinis. Kurikulum farmasi telah ditingkatkan untuk memenuhi permintaan para pemangku kepentingan, seiring dengan peningkatan apoteker klinis yang dibutuhkan di rumah sakit. Sementara itu, layanan apotek klinis dalam setting apotek masyarakat juga mulai meningkat karena paradigma layanan “berorientasi pasien” dan konsep “perawatan farmasi” telah diterima di negara-negara Asia.

Gagasan asli ACCP, menurut Ketua Asosiasi Apoteker Indonesia, Nurul Falah Eddy Pariang, yang didampingi Dr Yunita Nita selaku ketua eksekutif, berasal dari apoteker Asia yang sedang mencari sebuah konferensi praktis. “Di mana mereka dapat bertukar dan berbagi gagasan tentang konsep apotek klinis,” terang Nurul Falah, Sabtu (29/7/2017) di Yogyakarta.

Pada tahun 1996, perwakilan dari China, Korea, Jepang dan Amerika Serikat bertemu di Seoul, Korea, untuk merencanakan konferensi pertama. Hasilnya, konferensi Asia Timur pertama tentang mengembangkan praktik apoteker klinik dan pendidikan farmasi klinis atau EACDCPPE, diadakan di Amerika Serikat pada tahun 1997 dan hanya 36 perwakilan yang hadir.

Dari kegiatan itu, dikatakan Nurul Falah EP, dipelopori sebagai pertemuan dua tahunan. Pada tahun 1999, EACDCPPE kedua berturut-turut diadakan di Shanghai. “Konferensi ini memungkinkan lebih banyak perwakilan di negara-negara Asia untuk menyadari perbedaan antara negara-negara Asia dan Barat dalam pengembangan apotek klinis,” tambah Dr Yunita Nita.

Ketika konferensi ke tiga diadakan di Jepang pada tahun 2003, judul konferensi tersebut diubah menjadi Konferensi Asia untuk Apotek Klinik (ACCP). Hal ini untuk membuka konferensi ke lebih banyak negara Asia, juga menjadi subyek apotek klinis yang lebih diperkuat. Dengan serangkaian negara Asia lainnya seperti Filipina, Indonesia, Singapura dan seterusnya yang menghadiri ACCP serta pesatnya perkembangan apotek klinis di Asia, setiap negara antusias untuk menghadiri dan mengadakan konferensi ini. Pada konferensi ke-5 di Malaysia pada tahun 2005, keputusan tersebut dibuat di antara perwakilan negara-negara anggota untuk mengadakan konferensi tersebut setiap tahun. “Bukan dua tahunan, untuk efisiensi dan kemudahan dalam hal berkomunikasi dan berbagi tentang farmasi klinis,” papar Yunita Nita.

Menurut Nurul Falah EP, Indonesia menjadi tuan rumah ACCP ke-8 di Surabaya pada tahun 2008 dan menjadi tuan rumah ACCP ke-17 di Yogyakarta tahun 2017 yang menjadi perayaan 20 tahun ACCP. Selama 20 tahun terakhir, ACCP telah menjadi ajang utama dalam lingkup farmasi klinis di Asia. “Dan telah dilakukan di berbagai negara, terutama di Asia,” tandas Nurul Falah. 

Apoteker klinis telah menghadiri pertemuan bergengsi ini untuk berbagi pengalaman di bidang praktik, penelitian dan pendidikan tentang apotek klinis. Ahli klinis-apoteker dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Inggris terus-menerus datang dan mentransfer pengetahuan mereka. Juga berbagi pengalaman praktik klinis terdahulu. Dan, konferensi ini mendukung transfer pengetahuan dan pengalaman yang pesat dan meningkatkan praktik klinis di Asia. (Affan)

 

 

Berita Terkait