Fri,24 November 2017


Kedzaliman Israel Terhadap Al-Aqsa Sudah Melampaui Batas

Indofakta 2017-07-28 10:39:31 Nasional
Kedzaliman Israel Terhadap Al-Aqsa Sudah Melampaui Batas

YOGYAKARTA -- Negara merupakan salah satu subjek hukum internasional. Maka, untuk menjadi subjek hukum internasional, negara perlu memiliki ketentuan-ketentuan atau syarat untuk dipatuhi. Seperti pembagian wilayah yang mempunyai tujuan untuk mempermudah administrasi, pemerintahan dan hal-hal yang berkaitan dengan kenegaraan.

 

Namun, sampai saat ini konflik antarnegara masih terjadi. Salah satunya dikarenakan perebutan wilayah antarnegara, seperti yang terjadi antara Palestina dan Israel.

 

Berkaitan hal itu, Prof. Dr. H. Din Syamsuddin, MA, selaku Ketua Prakarsa Persahabatan Indonesia-Palestina, menyampaikan, peristiwa yang dilakukan oleh tentara Zionis Israel di Palestina, khususnya yang terjadi di Masjid Al-Aqsa ini, sungguh sudah melampaui batas. "Karena peristiwa itu sudah menyangkut lambang-lambang kesucian agama, khususnya agama Islam," papar Din Syamsuddin, Jum'at (28/7/2017) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

 

Bahkan, pemerintah Israel melalui tentaranya sampai melakukan pembatasan pelarangan terhadap hak warga Muslim untuk beribadah di Al-Aqsa. "Hal ini tidak bisa kita diamkan karena tingkat kebiadaban dan kedzaliman yang dilakukan oleh tentara Zionis Israel sudah sangat tinggi sekali. Bahkan, melebihi dari sekadar membangun pemukiman di Tepi Barat maupun pengeboman yang dilakukan di kawasan Gaza,” ujar Din.

 

Maka dari itu, Din mengimbau agar masyarakat internasional melakukan langkah-langkah serta tindakan yang nyata terkait dengan  peristiwa yang menimpa Al-Aqsa.

 

Pertama, Din Syamsuddin mengimbau kepada seluruh masyarakat internasional yang cinta damai dan cinta keadilan untuk bersama-sama bersatu, baik itu yang beragama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Yahudi dan apa pun latar belakangnya untuk melakukan protes terhadap apa yang dilakukan oleh Israel.

 

Ke dua, lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus lebih keras lagi, meskipun berbagai resolusi yang telah dilakukan untuk Israel tidak pernah ditegakkan. Kemudian, untuk melakukan pencegahan terhadap Zionis Israel, lembaga internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, perlu melakukan intervensi baik melalui cara militeristik maupun secara keamanan.
 

Din juga menegaskan, sudah saatnya bagi negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menunjukkan solidaritasnya, seperti yang dilakukan oleh Presiden Turki Erdogan.

 

"Selain itu, pemimpin-pemimpin dari berbagai negara yang bergabung dalam OKI juga jangan hanya diam. Tapi harus segara mendesak untuk melakukan tindakan sidang darurat OKI untuk menyelamatkan Al-Aqsa. Sidang Darurat bisa dilakukan Markas Besar OKI di Jeddah, Jakarta, Malaysia maupun di Ankara," tegas Din lagi.
 

Namun secara pribadi, Din sebagai Ketua Lembaga Masyarakat Prakarsa Persahabatan Indonesia-Palestina, juga menghargai sikap cukup tegas yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dan melalui Menteri Luar Negeri dalam peristiwa Al-Aqsa. Termasuk dalam hal ini juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo.

 

Bahkan, pada debat Pilpres 2014 lalu, Joko Widodo sudah menyampaikan dukungan untuk kemerdekaan Palestina dan ingin merekomendasikan perwakilan dari Indonesia di Ramallah.

”Organisasi yang saya pimpin sekarang ini merupakan lembaga masyarakat yang bersifat lintas agama," tandas Din.

 

Jadi, organisasi ini juga didukung oleh kawan-kawan Kristiani. Oleh karenanya Din juga mendukung pikiran-pikiran umum dan akan mengajak umat beragama lainnya untuk memberikan dukungan solidaritas terhadap Al-Aqsa.

 

Organisasi ini juga sangat moderat sekali serta selalu mengedepankan solusi antara kedua negara, baik itu Indonesia maupun Palestina. "Terutama umat Kristiani sangat bersimpati sekali terhadap kejadian ini, karena Yerusalem juga dianggap kota suci oleh tiga agama, yaitu agama Nasrani, Yahudi, Islam," kata Din.

 

Untuk itu, permasalahan ini harus selesai, serta direncanakan kota Yerusalem akan dijadikan kota sucioleh ketiga agama tersebut. (Affan)

 

Berita Terkait