21 Apr, 2026

Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Psikiater Ingatkan Peran Pendidikan

Indofakta.com, 2025-10-01 17:52:10 WIB

Bagikan:

Bandung -- Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia , diperingati dalam Bulan Oktober tahun ini . Peringatan tahun ini, tentunya masyarakat dari berbagai usia harus mempunyai mental sehat.

Baca juga: Perawatan Kecantikan Dengan Alat dari Korea Hadir di INTAN DERMA BEAUTY Cimahi

" terlebih lagi untuk generasi muda yang salah satunya yang saat ini sedang menempuh pendidikan baik di sekolah maupun Perguruan tinggi itu harus dibina dan dijaga kesehatan mentalnya sehubungan dengan hal itu peran penting pendidikan  untuk menjaga kualitas kesehatan mental" ungkap Psikiater, dr . Teddy Hidayat, Sp.Kj dalam keterangannya kepada media, di sela-sela kegiatan talk show  dalam menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, di SMAN 8 Bandung, Jalan Solontongan , Kota Bandung (1/10,)

Baca juga: PILAR WELLSKIN dan Yayasan Cipta Wellness Gelar "Wellness Tourism Appreciation Night 2025"

Hari Kesehatan Jiwa tahun  2025, ungkap Teddy mengusung tema 
“Gerakan Sekolah Sehat berfilosofi Pancawaluya" tema ini mengingatkan kemajuan dari Pemprov Jabar dalam menjalankan program unggulan di bidang pendidikan yaitu Pendidikan  Pancawaluya.

Baca juga: IGX 2025 Sukses Digelar di Bandung: Merajut Kolaborasi Teknologi, Budaya, dan Kreativitas

Pendidikan Pancawaluya, dari sisi filosofi pendidikan pada Masyarakat Sunda yaitu Cageur (sehat) fisik maupun mental, bener (baik) dan pinter (pintar)  tentunya dalam pendidikan Pancawaluya sudah terimplementasikan upaya memberikan pendidikan, mulai kognitif, mental dan perilaku.

Baca juga: APTIKNAS Perkuat Komitmen Transformasi Digital dan Dukung Penuh ISPE 2026 serta TechXCon 2026

"oleh karenanya untuk membangun kesehatan mental di kalangan siswa perlu ada screening untuk mengetahui potensi mental dari siswa" kata Teddy

Kesehatan mental, sambung Tedi dimaknai sebagai keadaan seseorang yang dapat meraih kesejahteraan mental. Lingkungan sekolah yang tidak sehat dapat memicu depresi dan kecemasan.  Faktor risiko di lingkungan sekolah berkaitan dengan interaksi antara pelajar, lingkungan, orang tua, keahlian pengajar, dan dukungan yang dapat diakses.

Pelajar yang merasa tidak nyaman di sekolah dapat menunjukkan perilaku tidak masuk sekolah (absenteeism) atau hadir tanpa produktivitas (presenteeism).

Intervensi kesehatan mental, harus terintegrasi dan meliputi pencegahan, identifikasi dini, dukungan, dan rehabilitasi.

Teddy, dalam keterangannya mengatakan guna membangun kesehatan mental diperlukan psychological well being para pelajar.

Bagi para pelajar , perlu dibangun motivasi untuk membangun diri (self growth) dengan belajar dari pengalaman menyelesaikan masalah kesehatan mental di sekolah.

" untuk membangun kesehatan mental di sekolah diharapkan dapat terbangun pemahaman bahwa kesempatan dan kebutuhan individu dapat memperkaya kebijakan mengenai isu kesehatan mental di sekolah.

Teddy, dalam keterangannya mengatakan dalam rangkaian Hari Kesehatan Jiwa Sedunia akan berlangsung kegiatan 
Pelatihan Kesehatan Mental (Mental Health Training for Students)

Kegiatan itu , dimaksudkan untuk meningkatkan  pemahaman siswa mengenai kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis di satuan pendidikan

Pelatihan tersebut, ujar Tedi juga diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku untuk mengurangi stigma
Serta membantu pemahaman tentang kesadaran mencari bantuan psikologis.(Nr)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online